Home / Edukasi / Fakta Unik

Rabu, 23 September 2026 - 10:51 WIB

Rahasia Burung Bisa Melayang Tinggi Tanpa Capek Kepakkan Sayap

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Pernahkah kamu memperhatikan burung elang atau albatros yang melayang santai di angkasa? Sayap mereka terbentang lebar tanpa tampak mengepak sama sekali, tetapi tubuhnya bisa terus melayang tinggi. Fenomena ini tentu membuat kita penasaran. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan di udara tanpa menguras banyak tenaga?

Ternyata, burung tidak sekadar membiarkan tubuhnya terbawa angin. Mereka memanfaatkan prinsip fisika dan kondisi alam secara cerdas. Berikut adalah cara burung melayang tanpa perlu terus-menerus mengepakkan sayap.

1. Memanfaatkan Aerodinamis Bentuk Sayap

Burung memiliki struktur sayap yang sangat khas. Lengkungan di bagian atas dan bentuk datar di bagian bawah membuat aliran udara bergerak lebih cepat di atas sayap. Perbedaan kecepatan ini menciptakan perbedaan tekanan udara, sehingga menghasilkan gaya angkat (lift). Selain itu, bentuk sayap mendorong udara ke bawah yang secara otomatis memicu gaya reaksi ke atas. Alhasil, burung bisa terus meluncur lancar selama ada pergerakan udara.

2. Membedakan Teknik Meluncur dan Membubung

Banyak orang menganggap meluncur (gliding) dan membubung (soaring) itu sama, padahal keduanya berbeda. Saat meluncur, burung hanya memanfaatkan ketinggian awal untuk bergerak maju, sehingga perlahan-lahan posisinya akan turun. Sebaliknya, saat membubung, burung sengaja menumpang arus udara yang sedang naik. Langkah ini membuat mereka mampu mempertahankan posisi atau bahkan terbang lebih tinggi tanpa perlu menggerakkan sayap.

Baca juga :   Panduan Zakat Fitrah 2026: Batas Waktu, Besaran, dan Niat Lengkap untuk Keluarga

3. Menunggangi Kolom Udara Hangat (Thermal)

Matahari memanaskan permukaan bumi secara tidak merata. Area seperti batuan atau tanah terbuka menyerap panas lebih cepat dan menghangatkan udara di atasnya. Udara hangat yang lebih ringan ini kemudian melesat naik membentuk kolom udara (thermal). Burung pemangsa seperti elang sering memutari area ini untuk “menumpang naik” hingga ketinggian tertentu, lalu meluncur santai menuju lokasi berikutnya.

4. Menerapkan Teknik Dynamic Soaring di Atas Lautan

Burung laut seperti albatros menghadapi tantangan berbeda karena tidak ada kolom udara hangat di atas laut terbuka. Namun, mereka memanfaatkan perbedaan kecepatan angin di berbagai ketinggian. Dengan bermanuver melintasi lapisan angin yang berembus cepat dan lambat secara bergantian, albatros memperoleh dorongan energi alami. Teknik ini memungkinkan mereka mengarungi lautan luas selama berjam-jam tanpa lelah.

Baca juga :   Pojok Sains: Ternyata Hidung Merah "Rudolph" Itu Nyata! Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa Hidung Rusa Bisa Menyala

5. Memanfaatkan Hantaman Angin pada Tebing (Ridge Soaring)

Ketika angin berembus kencang dan menabrak tebing atau lereng gunung, jalurnya akan terbelokkan ke atas. Burung membaca fenomena ini dan sengaja terbang di sepanjang garis tebing tersebut. Arus naik dari hambatan geografis ini memberi dorongan gratis bagi burung untuk tetap melayang dengan stabil.

6. Melakukan Penyesuaian Mikro Secara Real-Time

Dari jauh, burung memang terlihat diam tak bergerak. Padahal, otot-otot kecil mereka bekerja ekstra keras melakukan penyesuaian mikro. Burung terus memiringkan ekor, mengubah sudut bulu sayap, dan menggeser pusat gravitasi tubuhnya. Gerakan halus ini penting agar mereka tetap seimbang dan tidak terhempas saat kondisi angin berubah mendadak.

Kesimpulan

Mengepakkan sayap secara terus-menerus memakan energi yang sangat besar. Oleh karena itu, burung mengombinasikan kepakan singkat dengan teknik memanfaatkan arus udara di sekitarnya. Kemampuan membaca alam inilah yang menjadikan burung sebagai navigator udara yang luar biasa efisien. (Adam)

Berita ini 5 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Fakta Unik

Di Balik Keanggunannya, Simak 7 Alasan Angsa Sangat Agresif dan Bisa Melukai Manusia
Pojok Sains: Abis Begadang Tahun Baru, Kok Bawaannya Pengen Makan Mie Instan & Gorengan? Kenalan Sama "Hormon Lapar" yang Lagi Ngamuk!

Bilogi

Pojok Sains: Abis Begadang Tahun Baru, Kok Bawaannya Pengen Makan Mie Instan & Gorengan? Kenalan Sama “Hormon Lapar” yang Lagi Ngamuk!
Nostalgia Masa Kecil: Kenapa Tanaman Putri Malu (Mimosa pudica) Menutup Saat Disentuh? Bukan Karena Punya Perasaan, Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Artikel

Nostalgia Masa Kecil: Kenapa Tanaman Putri Malu (Mimosa pudica) Menutup Saat Disentuh? Bukan Karena Punya Perasaan, Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Pojok Sains: Pesta Udah Selesai, Kok Tiba-Tiba Merasa Sedih & Hampa? Hati-Hati Kena "Post-Holiday Blues", Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Fakta Unik

Pojok Sains: Pesta Udah Selesai, Kok Tiba-Tiba Merasa Sedih & Hampa? Hati-Hati Kena “Post-Holiday Blues”, Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Kenapa Digigit Semut Rasanya Panas & Gatal? Kenalan dengan Asam Formiat (CH2O2), Senjata Kimia si Kecil!

Artikel

Kenapa Digigit Semut Rasanya Panas & Gatal? Kenalan dengan Asam Formiat (CH2O2), Senjata Kimia si Kecil!
Kenapa Air Tak Mempan Cuci Minyak? Kenalan dengan Sabun (C17H35COONa), Si "Agen Ganda" yang Jenius!

Artikel

Kenapa Air Tidak Bisa Hapus Minyak, Tapi Sabun Bisa? Kenalan dengan Molekul “Dua Wajah” C17H35COONa!
Pojok Sains: Tahun 2025 Kamu Isinya Capek Melulu? Tenang, "Selamatkan" Memori Setahun Cuma dengan Bahagia Malam Ini! (Teori Peak-End Rule)

Fakta Unik

Pojok Sains: Tahun 2025 Kamu Isinya Capek Melulu? Tenang, “Selamatkan” Memori Setahun Cuma dengan Bahagia Malam Ini! (Teori Peak-End Rule)
Pojok Sains: Misteri 'Ketindihan' (Sleep Paralysis), Benarkah Ulah Makhluk Halus?

Fakta Unik

Pojok Sains: Misteri ‘Ketindihan’ (Sleep Paralysis), Benarkah Ulah Makhluk Halus?