Koransakti.co.id- Jika kita sepaham bahwa revolusi itu adalah satu gerakan perubahan besar-besaran seketika dan mendasar atas politik dan tata kelola negara maka dari itu kita harus mengakui dan mengatakan bahwa revolusi atau gerakan perubahan itu telah tejadi di Indonesia lebih dari sekali malah.
-TRITURA
Sejak tahun 1960 kondisi ekonomi masyarakat Indonesia hancur.
Inflasi mencapai 594%. Harga harga kebutuhan pokok terbang ke angkasa bagai sputnik. Sehingga pendapatan (PNS maupun pekerja lainnya) hanya cukup untuk hidup tiga hari.
Keuangan negara di gunakan mengatasi keamanan dan perang. Tahun 1947 Belanda di bantu sekutu mengirim pasukan KNL (Kononkijk Nederlandsch Indisch Leger) melakukan agresi dan perang kolonial ke dua. Dalam tahun yang sama meletus pula gerakan separatisme DI/TII di bawah pimpinan Karto Suwiryo yang akan mendirikan negara Islam
Rakyat yang lapar di pelopori KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) dan elemen masyarakat lain seperti buruh (KABI) Wanita ( KAWI) melakukan demonstrasi besar-besaran dengan mengusung jargon perjuangan Tritura ( Tri Tuntutan Rakyat).
– Bubarkan PKI
– Rombak kabinet Dwikora
– Turunkan harga.
Tanggal 10 Januari 1966 adalah momen berdirinya Tritura itu.
Gerakan mahasiswa itu secara terselubung di dukung tentara yang ingin menaikkan Mayjen Suharto menjadi presiden.
Melalui Surat Perintah 11 Maret kekuasaan itu berhasil di peroleh. Melalui sidang istimewa MPR (S) Suharto di kukuhkan sebagai presiden Republik Indonesia melalui TAP MPRS NO.XLIV/MPRS/1968.
Awalnya pemerintah otde baru berhasil mengendalikan ekonomi melalui pembangunan semesta berencana dengan tahapan lima tahunan (Repelita).
Tetapi pada tahun 1997 terjadi resesi atau krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia. Kondisi itu tidak terkendali dan terus merangsek merusak tatanan kehidupan sehari-hari.
Harga harga kebutuhan pokok melambung tinggi di sertai daya beli yang semakin melemah. Barsng barang kebutuhan pokok sulit di dapat
Selain dari itu secara politik Suharto melakukan tindakan tindakan otoriter. Lawan lawan politik di tangkap, di tahan tanpa peradilan, kebebsan Pers di batasi. Banyak surat kabar di bredel.
Roda ekonomi di kuasai kroni kroni dan keluarga istana. Muncul KKN ( korupsi, Solusi dan Nepotisme). Rakyat yang melarat marah dan tidak bisa mengendalikan diri . Seperti biasa mahasiswa turun ke jalan, menuntut Suharto mundur.
Di lingkungan Pemerintahan Suharto makin terdesak. Ada 14 Mentri mengundur diri. Empat orang yang memiliki menjadi tokoh sentral Gerakan perubahan ini. Ada Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sultan Hamengku Buwono x.
Puncak demo sekitar seratus ribu orang menaiki gedung utama DPR Senayan. Suharto yang sedang berkunjung ke Mesir cepat cepat pulang dan besok harinya tanggal 21 Mei 1998 menyatakan pengunduran diri.
BJ Habibie yang menggantikan mewarnai permulaan pemerintahan era reformasi.
Sampai kini orde reformasi itu sudah berusia 37 tahun. Telah ada 6 Presiden yang tampil. BJ. Habibi, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Tapi kedamaian sebagai kondisi lanjutan yang di cita-citakan sebuah revolusi masih jauh bumi dari langit. Kesejahteraan masyarakat belum terasa. Yang ada cuma kebebasan berbicara. Bebas memaki orang. Jauh berbeda dengan revolusi Prancis. Kedengarannya mulus mulus saja tuh. Revolusi atau apapun namanya gerakan perubahan besar-besaran seketika sepertinya belum tertata rapi. Akan terjadi kemudian revolusi ke tiga atau reformasi Jilid dua, mene ketehe..
Pesan moral untuk proses perubahan atau revolusi selanjutnya. Lakukan semua secara Arif dan bijak dan dengan penataan yang rapi. Jangan seperti keledai, terperosok dua kali pada lobang yang sama. Oleh karena itu, jangan jadikan rakyat jadi marmot percobaan.
Baca juga: Bumi Semakin Membara: 10 Fakta Tak Terbantahkan Bahwa Pemanasan Global Bukan Sekadar Isu














