Home / Ekonomi / Keuangan

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:24 WIB

Rupiah Tembus Rp17.500, Menteri Bahlil Kaji Ulang Subsidi dan Harga BBM

koransakti - Penulis

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia

koransakti.co.id, Jakarta- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bersama jajaran pemerintah tengah intensif membahas anjloknya nilai tukar rupiah yang kini melampaui angka Rp17.500 per dolar AS. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah membedah bagaimana pelemahan kurs ini akan memengaruhi beban subsidi energi nasional ke depan.

Nasib Harga BBM dan Subsidi Energi

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang melakukan kalkulasi matang. Meskipun tekanan terhadap rupiah kian berat, ia menyatakan bahwa otoritas belum bisa memastikan apakah kondisi ini akan memicu kenaikan harga BBM pada bulan depan.

“Menteri ESDM bersama jajaran menteri lainnya sedang merapatkan hal tersebut. Kita tunggu saja hasilnya,” ujar Laode di kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5).

Baca juga :   Bank Jambi Tegaskan Dana Nasabah Aman, Kerugian Akibat Gangguan Sistem Telah Diganti

Ketahanan Stok BBM Nasional Masih Aman

Selain membahas persoalan kurs, rapat tersebut juga mengevaluasi ketahanan energi domestik. Laode menegaskan bahwa pasokan BBM dan LPG nasional saat ini masih berada dalam taraf yang cukup. Ia memberikan gambaran bahwa aktivitas masyarakat tetap berjalan normal tanpa kendala pasokan, berbeda dengan beberapa negara lain yang mulai membatasi penggunaan kendaraan.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau stok harian agar distribusi bensin, solar, maupun LPG tetap terjaga sehingga kebutuhan masyarakat dapat terlayani secara maksimal di tengah fluktuasi ekonomi global.

Faktor Penyebab Melemahnya Rupiah

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda, Rabu (13/5) terpantau melemah 0,08% ke level Rp17.541 per dolar AS. Kondisi ini menempatkan rupiah searah dengan mayoritas mata uang di Asia yang juga sedang mengalami tren koreksi.

Baca juga :   Tarif Listrik April–Juni 2026 Tetap Stabil, Pemerintah Jaga Daya Beli dan Keandalan Energi Nasional

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, di antaranya:

  • Geopolitik: Konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

  • Musiman: Lonjakan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, serta biaya ibadah haji.

Menyikapi hal tersebut, Bank Indonesia berjanji akan terus melakukan “smart intervention” di pasar untuk menstabilkan nilai tukar dan menahan volatilitas agar tidak semakin liar. (asep)

Baca juga: Cegah Ketergantungan BBM Indonesia Percepat Elektrifikasi

Berita ini 23 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Stop Buang Kuota! Ini 5 Aplikasi Penghasil Uang Terbaik 2025 yang Wajib Ada di HP Kamu

Keuangan

Stop Buang Kuota! Ini 5 Aplikasi Penghasil Uang Terbaik 2025 yang Wajib Ada di HP Kamu
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Bisnis

IHSG Anjlok 3% Hari Ini, Analis Sebut Wacana Baru MSCI Jadi Biang Keroknya

Ekonomi

Pemerintah Luncurkan Paket Ekonomi 2025, dan Program Penyerapan Tenaga Kerja

Bisnis

Harga Emas Dunia Meroket, Saham Entitas MDKA Menguat

Kebijakan

Ketika Loyalitas Tak Diakui: Diskriminasi Administratif dalam Reformasi ASN

Kebijakan

Vaksinasi Berbasis Zona, Kementan Perkuat Perlindungan Peternak dari PMK

Daerah

Pemprov Jatim Terapkan WFH ASN Mulai Rabu, Khofifah Hindari Efek Long Weekend

Energi

Tarif Listrik April–Juni 2026 Tetap Stabil, Pemerintah Jaga Daya Beli dan Keandalan Energi Nasional