WASHINGTON D.C., AS – Presiden Donald Trump membuat langkah kontroversial. Ia mencabut perlindungan Secret Service untuk mantan Wakil Presiden Kamala Harris. Perintah ini akan berlaku efektif mulai 1 September 2025 mendatang.
Keputusan ini langsung menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Banyak yang menuding langkah ini sebagai bentuk balas dendam politik. Pencabutan ini terjadi tepat sebelum Harris akan memulai tur nasional untuk mempromosikan buku memoarnya.
Pembatalan Perpanjangan dari Era Biden
Menurut undang-undang, mantan wakil presiden berhak mendapat perlindungan selama enam bulan setelah lengser. Periode perlindungan untuk Harris seharusnya berakhir pada bulan Juli lalu.
Namun, mantan Presiden Joe Biden diam-diam telah menandatangani arahan. Arahan itu memperpanjang perlindungan Harris selama satu tahun lagi. Kini, Presiden Trump secara resmi membatalkan perpanjangan tersebut melalui sebuah memo.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengonfirmasi langkah ini. Sumber internal mengatakan bahwa penilaian ancaman terbaru tidak menemukan hal yang mengkhawatirkan. Karena itu, perpanjangan perlindungan dianggap tidak perlu.
Dituding sebagai Aksi Balas Dendam Politik
Para kritikus tidak setuju dengan alasan Gedung Putih. Mereka melihat ini sebagai bagian dari pola balas dendam politik Trump. Walikota Los Angeles, Karen Bass, menyebut keputusan ini membahayakan nyawa Harris.
“Ini adalah tindakan balas dendam lainnya,” kata Bass kepada CNN. “Ini menempatkan Harris dalam bahaya dan saya akan memastikan dia aman di Los Angeles.”
Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump memang telah mencabut perlindungan untuk sejumlah tokoh. Beberapa di antaranya adalah putra-putri Joe Biden (Hunter dan Ashley Biden), Dr. Anthony Fauci, hingga mantan pejabatnya sendiri yang berubah menjadi kritikus, seperti Mike Pompeo dan John Bolton.
Sejarah Ancaman Keamanan Terhadap Harris
Kekhawatiran terhadap keselamatan Harris bukan tanpa alasan. Selama menjabat, ia menghadapi beberapa ancaman keamanan serius. Para mantan pejabat Secret Service mengatakan risiko itu diperparah karena statusnya sebagai wanita dan orang kulit berwarna pertama yang menjabat sebagai wakil presiden.
Sebagai contoh, pada Agustus 2024, seorang pria didakwa karena membuat ancaman online untuk membunuh atau menculik Harris. Insiden lain pada tahun 2021 juga melibatkan seorang wanita yang mengaku bersalah karena mengirim video ancaman terhadap Harris.
Pencabutan perlindungan ini kini menjadikan keselamatan seorang mantan pejabat tinggi sebagai isu politik panas di Amerika Serikat.















