Oleh: H.DEDI ASIKIN (Wartawan pengamat dan aktivis Sosial)
Koran Sakti.co.id- Didalam KLW ( Karya Latihan Wartawan (tingkat redaktur) tahun 1976 di Wisma Dirga Niaga Cipayung Bogor Rosihan Anwar memberi materi dalam tajuk Ekonomi kata.
Menurutnya wartawan harus bisa memperhatikan penggunaan kalimat pendek dalam berita maupun opini. Dalam kaidah jurnalistik ada istilah stakato. Praas itu mengacu pada ketikan dalam irama musik. Toktoktok. Economi kata atau word economic sebuah hal yang niscaya jadi ingatan. Hindari kata kata bersayap berlebihan dan ulangan Kalimat dalam berita itu harus sederhana jelas mudah dibaca. Banyak pembaca yang tidak punya cukup waktu untuk bersama LSM membaca halaman koran
Lagi pula halaman koran itu terbatas. Banyak koran yang terbit masih dengan 4 halaman. Bisa 8 halaman saja sudah hebring.
Tapi saya senang membaca artikel artikel pendekar pena Mahbub Djunaidi, sepertinya beliau tidak merasa terbingkai oleh kaidah ketukan musik tuktuktuk atau stakato itu. Seperti bagi bang Mahbub kenapan harus diperpendek kalau bisa diperpanjang.
Yang pasti tulisan bang Mahbub itu sederhana jelas dan enak dibaca ngageleser seperti cendol Elisabeth.
Tapi jujur saya tidak bisa jadi muridnya. Dan harus hati hati nanti dibilang syaraf. Di tatar Sunda ada tapi mitos bahwa orang berguru tidak bisa menyerap ilmu sang guru bisa terganggu jiwanya, bisa syaraf kata mereka. Waduh jangan sampe dah. Amit amit jabang Tutuka.
Saya adalah saya, bukan si burung parkit di kandang macan bukan siapapun. Jawadah tutung biritna Ciri sabumi cara sadesa. Lain Padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.***















