Home / Opini

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 12:43 WIB

BECIK KETITIK OLO KETORO 

koransakti - Penulis

Oleh : DEDI ASIKIN

Koransakti.co.id- Kalimat itu adalah babasan bahasa Jawa. Arti harfiahnya adalah kebaikan akan tampak dan keburukan akan ketahuan.

Belakangan ini memang sedang trend di mana mana protes masyarakat terhadap perbuatan para pemimpin dan penguasa yang cendrung pada konotasi keburukan sewenang wenang, tertutup dan abuse of power (penyalahgunaan wewenang).

Sumber daya alam yang melimpah habis di keruk dan sebagian besar di korupsi. Penyelenggaraan negara berlanggsung teurup dan banyak kebohongan dan pembodohan kepada rakyat. Komoditas pertambangan timah jebol 300 triliun. Manipulasi bensin premium yang di jual sebagai pertamax. sejumlah pejabat di Pertamina menikmati kelebihan itu sampai bernilai hampir seribu trilyun.

Di sektor lainnya juga terus berlangsung tapi terus juga terungkap. Yaitu tadi persis relevan dengan babasan Jawa becik ketitik olo ketoro. Rakyatpun makin geram dan hampir kehilangan kepercayaan dan kesabaran kepada para penyelenggara negara yang mendapat mandat dari rakyat .

Baca juga :   Harga Obat di Indonesia 6 Kali Lebih Mahal dari India: Kita Bisa Apa?

Sementara penegakan hukum tidak ada kepastian dan keadilan. Hukum belah bambu, injak yang bawah dan angkat yang atas masih jadi tontonan sehari-hari.

Tak kurang dari mantan menko polhukam Mahfud MD yang kecewa dengan sistim penegakan hukum itu. Macet nya RUU perampasan aset makin menjadi sorotan. DPR rupanya mulai malu hati. Katanya RUU yang macet selama 4 tahun tadi sudah akan masuk Prolegnas tahun 2026. Tapi diakal akali, akan di buat seolah-olah RUU itu merupakan inisiatif dari DPR. Biasa, numpang tenar cari muka.

Nurut Udud ( NU) kata Uthon Fathon wartawan senior di Pokja Liputan Kementerian @Agama. Padahal semua orang tahu RUU PA itu datang dari istana dan merupakan inisiatif pemerintah/presiden Joko Widodo empat tahun Lalu. Selama ini DPR sering di tuduh trauma, takut senjata makan tuan atau dalam peribahasa Sunda ada peribahasa Tamiang meulit kabitis. Contoh yang relevan adalah UU Korupsi. Setelah di syahkan DPR, justru paling banyak anggota DPR yang jeblos terali besi, senjata makan tuan atau Tamiang meulit kabitis. Masalahnya yaitu tadi sing becik ketitik wong olo ketoro, yang salah seteru ning Allah Salah sendiri kenapa ngiler melihat uang amanah.

Baca juga :   Gerak Cepat PT.KMH, Aslori : Pasca Ambruk, Jembatan Tamiai Kembali Bisa Dilewati Kendaraan

Dalam Islam ada 4 syarat menjadi pemimpin/ penguasa :

Siddiq, jujur

Amanah,  bertanggung jawab

Tablig, komunikatif dan

Fathonah, cerdas dan berwawasan luas.

Eman eman, hati hati jangan sampe kejedot bebasan, becik ketitik olo ketoro dan masuk penjara.

Berita ini 65 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Kearifan Sang Mantan Kanselir

Jakarta

Sengketa Tanah Desa Wadas dan Negara (Pemerintah) Dari Sudut Pandang Demokrasi Ekonomi Implementasi Demokrasi Pancasila

Opini

Fundamental Ekonomi Indonesia Bagus, Stabilitas Politik Mantab : Mengapa Reaksi Pasar Tetap Negatif ?

Ekonomi

Pemangkasan Anggaran MBG akan Hemat Rp235 Triliun

Opini

Kemarau Panjang Air Sungai Surut : Roda Kehidupan Tersendat

Opini

11 Tahun Kerinci Time

Opini

Tanjung Verde: Fenomenal Mengguncang Piala Dunia

Opini

Apakah sekitar Rp 1.600 triliun hasil ekspor sawit dan tambang kembali ke Indonesia?