koransakti.co.id- Tak seorang pun di antara kita yang ingin sakit. Namun penyakit bisa datang karena faktor: genetik, habit (perilaku), dan juga lingkungan. Pada tahun 2025 di perkirakan pengeluaran untuk kesehatan di Indonesia hampir Rp 700 triliun. Sebagian besar biaya tersebut di gunakan untuk obat-obatan, baik rawat jalan maupun rawat inap. Bahkan dalam tindakan medis, komponen biaya obat sering menjadi yang paling besar.
Saat berjalan di Pasar Mumbai yang terkenal, yaitu Crawford Market, beberapa bulan lalu kami menyempatkan membeli obat titipan seorang kenalan di Jakarta. Di sebuah medical store yang berada dekat Masjid Bundar Mumbai, harga obat hipertensi (Concor) 1 tablet hanya sekitar Rp 1.500. Di Jakarta bisa di atas Rp 9.000. Obat anti kolesterol (Lipitor) hanya Rp 1.000, sedangkan di Jakarta sekitar Rp 6.000. Enam kali lebih mahal.
Mengapa di India lebih murah?
Pertama, faktor bahan baku yang hampir 100% berasal dari dalam negeri India sendiri.
Kedua, tata kelola obat yang sangat efisien karena mata rantai distribusi yang pendek. Produsen dapat langsung ke jaringan distribusi yang di dukung sistem logistik yang tersebar luas di seluruh India.
Bagaimana di Indonesia?
Walaupun sejak tahun 2022 ada program change source bahan baku obat, insentif fiskal dan nonfiskal, serta jaminan pasar, hal tersebut belum berhasil menurunkan harga obat secara signifikan. Hal ini di sebabkan 80–90% bahan baku masih di impor dari China dan India.
Di samping itu, mata rantai distribusi obat masih terlalu panjang: produsen → pedagang besar farmasi/distributor → subdistributor → rumah sakit → apotek/rumah obat. Tata kelola ini menimbulkan biaya tinggi yang otomatis berpengaruh pada harga obat.
Sudah saatnya pemerintah mereview program—termasuk pelaksana program—yang selama ini belum berdampak secara implementatif terhadap penurunan harga obat.
Kepada masyarakat, di anjurkan untuk menerapkan gaya hidup sehat: makan tidak berlebihan serta berolahraga secara teratur dan terukur.
*) Penulis (Prof.RDM) pernah memimpin audit Laporan Keuangan dan Audit Kinerja Kemenkes 2009-2013
Baca juga: Mengapa Cemas Berlebihan Bisa Berbahaya bagi Kesehatan Anda?















