Home / Opini

Minggu, 24 Mei 2026 - 05:52 WIB

Rugi Bandar

Dedi Asikin - Penulis

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Koransakti.co.id- Jika di hitung hitung tulisan saya selama tiga tahun (2019-2022) mungkin ada sekitar 500 judul menyangkut berbagai aspek kehidupan, mulai dari Ekonomi, politik sosial, budaya dan sedikit Agama (Epolisosbud A).

Dulu awal tahun 2023 ada niat mau membentuk panitia kecil untuk memilih dan memilah tulisan itu yang berkualitas dan memiliki nilai pembelajaran dan keteladan,.

Rencananya akan di terbitkan dalam bentuk buku dan publisir. Tapi niat itu, terpaksa di batalkan. Atau lebih tepatnya di gagalkan.

Di gagalkan oleh keadaan. Begini, Tahun 2023 mendadak turun, hasil penelitian UNESCO. Badan otoritas PBB (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) itu berkesimpulan bahwa minat baca masyarakat Indonesia itu rendah. Bahkan sangat rendah.

Dirjen Unesco Audrey Azoulay menyebut hanya satu dari seribu orang Indonesia yang masih suka membaca.

Baca juga :   Kondisi Kemanusiaan Palestina, Sudan, dan Ukraina Memburuk, PBB Serukan Akses dan Perlindungan

Audrey perempuan asal Prancis, yang masih muda dan cantik  (namanya juga perempuan) baru terpilih kembali sebagai Dirjen unesco. Dia menjabat dua periode dan baru tahun 2025 di ganti oleh Khaled El Enany dari Mesir.

Kata Audrey ada berbagai faktor yang  membuat bangsa Indonesia itu kedul baca. Di antaranya masalah saya daya jangkau ke tempat pendidikan (sekolah) relatif jauh, terutama di luar Jawa seperti Kalimantan dan Papua. Juga sangat kurangnya ruang baca seperti perpustakaan.

Selain itu juga faktor budaya dan kebiasaan dari leluhur atau orangtua.

Hitung hitungan secara ekonomis kalau buku saya yang rencananya di beri judul “Menunggu maut menjemput” di cetak 10.000 maka yang laku hanya 10 buku saja.

Rugi bandar dong kalau begitu.

Saya juga tidak tahu siapa di Indonesia ini yang bertanggung jawab dan mampu merubah reading habbit bangsa ini menjadi pelahap buku ?

Baca juga :   Laut sebagai Pusat Peradaban Ekonomi Biru: Catatan dari Forum UNOC 2025

Presidenkah ?

Teman teman di grup diskusi ngadu bako tak yakin itu. Paling paling cuman dalih yang keluar seperti kenaikan nilai dolar.

Presiden Prabowo, cukup menjawab bahwa masyarakat di desa tidak bertransaksi dengan dolar tapi dengan rupiah. Kalau dulu mungkin dia bilang dengan benggol.

Saya dan teman teman di grup diskusi ngadu bako tetap berharap ada yang tampil dengan konsep dan road map operasional yang tepat, tidak seperti MBG (Makan Bergizi Gratis).

Rugi bandar tetap dan saya gagal mencetak buku.***

Baca juga: Menakar Masa Depan Ekonomi Kerinci 2026: Strategi UMKM dan Akselerasi Literasi Keuangan Digital

PERINTAH IQRO, (MEMBACA), SEBUAH SIMBOL

Berita ini 19 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Nyawa Melayang di Pelintasan Kereta : Antara Sarana Palang Pintu Kereta dan Disiplin Pengguna

Opini

Dilema Kepemimpinan Prabowo: Antara Menjaga Kekuasaan dan Menjawab Aspirasi Demokrasi

Opini

Top 3 propinsi economic growth Tinggi Tapi Stunting Juga Tinggi

Opini

Menaikkan Gaji atau Tunjangan Kepala Daerah: Mana yang lebih pas?

Opini

Mahasiswa di Sponsori atau Nalar yang Terbakar?

Opini

Telkom di Investigasi Badan Federal Amerika Serikat: Hadapi Saja

Opini

Bagaimana SDM Kita kedepan?Perguruan Tinggi Unggul (A) Hanya 6%

Opini

Empati untuk 326 Kepala SMA/SMK di Sulawesi Selatan