Home / Opini

Jumat, 17 April 2026 - 03:01 WIB

Indonesia Beli Produk Perancis Lebih Rp 116 triliun: “Tu peux nous aider” Nya Apa?

koransakti - Penulis

Koransakti.co.id- Pada usia 16 tahun, Deng Xiaoping pergi ke Perancis dalam program belajar sambil bekerja (1920). Ia kagum pada kemajuan Barat, sempat bekerja di Hutchinson dan Renault. Pengalaman itu melahirkan pragmatisme pembangunan China, dengan jargon: “Tidak penting warna kucing, yang penting bisa menangkap tikus.” Salah satu fondasi yang mengantarkan China menjadi super power.

Dalam konteks kita sekarang, kita memahami Presiden Prabowo Subianto menjalin kemitraan strategis dengan Perancis di bidang pertahanan, energi (EBT), pendidikan, dan ekonomi kreatif.

Perancis sendiri merupakan kekuatan ekonomi besar di Eropa dengan PDB sekitar US$ 3,3 triliun. Pariwisatanya menghasilkan Rp 1.547,8 triliun dari 102 juta wisatawan (2025), dan industri kreatifnya menyumbang Rp 128 triliun.

Indonesia telah menyepakati membeli produk Perancis berupa alutsista dan lain-lain senilai lebih dari Rp 116 triliun, dengan skema foreign loan yang melibatkan sindikasi perbankan Perancis.

Baca juga :   DARI RENGASDENGKLOK MENUJU PINTU GERBANG 

Pertanyaannya, apa yang di berikan Perancis kepada rakyat Indonesia?

Tentu ada janji alih teknologi dan kerja sama dengan perusahaan Indonesia, lazimnya dalam sebuah MoU. Tapi yang konkret apa?

Bisa saja berupa kesanggupan Perancis memberi fasilitas bekerja magang dan belajar kepada 1 juta siswa Indonesia. Bisa juga beasiswa untuk 10.000 mahasiswa di perguruan tinggi Perancis. Saat ini hanya sekitar 1.500 mahasiswa Indonesia yang belajar di Perancis, itu pun sebagian besar di biayai LPDP.

Bisa juga menampung produk unggulan UMKM Indonesia, serta kesediaan Perancis berbagi teknologi AI dan keamanan data digital secara nyata dengan Indonesia.

Baca juga :   Benny Hutapea Bicara Sejarah Budidaya Sarang Burung Walet di Indonesia

Kita memahami sikap orang Perancis sangat friendly dengan orang asing. Perancis bukan hanya tentang Louis Vuitton, croissant, atau ratatouille, tetapi juga budaya terbuka. Di Champs-Élysées, Paris, terlihat masyarakat lintas bangsa berbaur dengan ramah tanpa sekat.

Ke depan, perlu tim monitoring untuk memastikan realisasi setiap MoU dengan negara sahabat. Khusus untuk Perancis, mungkin ke depan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif perlu di ikutsertakan, supaya pariwisata dan ekonomi kreatif kita lebih mantul. InsyaAllah.

Penulis:

Prof. Dr. RIZAL DJALIL MAKMUR (Prof RDM), Politisi Senior, Eks Ketua BPK RI & Analis Politik Anggaran, Pangan dan Health Economic

Baca juga: Di Tokyo, Presiden Prabowo Saksikan Kesepakatan Bisnis Raksasa Rp384,2 T, Indonesia Jadi Magnet Investasi Kawasan

Berita ini 23 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Daerah

Renungan di Awal tahun 2022

Nasional

Pemuda Panca Marga sebagai Garda Bangsa

Jakarta

Sebuah Opini ‘The Art of Dreaming’

Opini

Duka dan Prihatin Kita Terhadap Korban Gempa di NTT dan Simalungun

Opini

Mega Bintang Ronaldo Pergi karena Tidak Ada Respek: Federasi Rugi Besar

Opini

“Serigala Berbulu Domba”: Hati-Hati Mempercayakan Dana
Menguji Nyali Lewat Rumus "Lima AT" Menjadi Wartawan Hebat

Opini

Rugi Bandar

Opini

Nyawa Melayang di Pelintasan Kereta : Antara Sarana Palang Pintu Kereta dan Disiplin Pengguna