Home / Artikel

Senin, 1 Desember 2025 - 19:21 WIB

BUBAT, PERANG MEMBELA MARTABAT 

koransakti - Penulis

Oleh: DEDI ASIKIN

koransakti.co.id- Pemerintah dan masyarakat kabupaten Ciamis sedang menunggu Keluarnya peraturan pemerintah tentang perubahan nama kabupaten dari Ciamis menjadi (kembali) kabupaten Galuh.

Galuh minded sudah terasa sekali adanya. Beberapa lembaga dinamai Galuh, misalnya Universitas Galuh stadion sepak bola HR Galuh dan lainnya. Pokoknya apapun maunya di sebut Galuh.

Antara Ciamis dan Galuh memang bahso berkait berkelin dan secara legenda maupun historikal.

Galuh adalah ketika kerajaan besar di tatar Sunda yang hidup selama lebih dari sepuluh abad atau seribu tahun

Selama rentang panjang itu ada sebuah peristiwa yang fundamental dan historical, yaitu perang Bubat.

Bermula dari jatuh cintanya raja Hayam Wuruk Majapahit kepada putri mahkota Kerajaan Galuh Ciamis Diah Pitaloka Citra resmi. Memberinya raja generasi ketiga ieu jatuh cinta pada sebuah lukisan. Wajah cantik jelita dalam lukisan itu ternyata putri mahkota Kerajaan Galuh Ciamis Diah Pitaloka Citra resmi

Sebagai raja muda, tampan dan masih perjaka itu segara mengirim utusan ke Kawali ibu kota kerajaan  Galuh. Tak lain dan tak bukan adalah untuk melamar sang putri yang akan di jadikan Prameswari kerajaan Majapahit.

Baca juga :   HEROISME KIYAI DAN SANTRI

Tanpa banyak cingcong lamaran itu langsung di terima. Sang raja Wastukencana tentu bangga putrinya di lamar raja dari kerajaan terbesar di Nusantara ini. Saking gembiranya sampai sampai prabu Wastu Kencana lupa pada pakem dan tetekon kerajaan. Beliau dengan enteng setuju acara pernikahan di langsungkan di tempat mempelai pria. Satu hal yang tidak boleh terjadi menurut budaya masyarakat Sunda/ Galuh, Bahkan warning dari adik kandung sendiri pangeran Bunisora tidak di gubris sang prabu.

Syahdan berlayarlah 24 kapal kapal layar dari Cirebon menyusuri laut pantura menuju kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Di sana rombongan di tempatkan di Alun alun Bubat, beberapa km sebelah Utara ibu kota kerajaan Majapahit jadi gupitan kali Brantas.

Tiba tiba di tengah para tamu sedang istirahat muncul wacana yang di sebar Mahapatih Gajah Mada, katanya rombongan raja Galuh itu datang untuk menyerahkan diri dan menjadi taklukan Majapahit.

Tentu saja ucapan Gajah Mada itu terasa menonjok ulu hati prabu Wastu Kencana. Dada bergulat antara kekuatan suka dengan harga diri dan martabat kerajaan Sunda Galuh.

Tapi pilihannya lebih kepada membela martabat kerajaan dan sukur bangsa Sunda.

Maka komando yang keluar adalah perang. Maka terjadilah perang sehari (tanggal 5 Juli 1357) sudah bisa di tebak kekalahan menimpa pak Galuh.

Baca juga :   BUBAT, PERANG MEMBELA MARTABAT 

Hampir semua orang tewas termasuk prabu Wastu Kencana sendiri.

Adapun putri mahkota Diah Pitaloka Citra resmi setelah melihat sang ayah bersimbah darah, diapun bismillah, mencabut tusuk konde dari kepalanya, dan clep persis nancep di ulu ati sang calon Prameswari kerajaan Majapahit itu. Gugur pula lah sang putri.

Berita duka itu meski belum ada teknologi digital, tersampaikan juga ke ibu kota kerajaan Galuh di Kawali.

Keputusan politik yang segera di ambil adalah mengangkat wali negara untuk memimpin pemerintahan yang kosong kerena putra mahkota Lingga Wastu baru berusia 9 tahun.

Yang di tunjuk menjadi wali negara adalah adik kandung raja, prabu Bunisora. Jabatan itu di serahkan kepada putera mahkota Lingga Wastu tahun 1662, ketika Lingga Wastu berusia 24 tahun.

Itulah perang Bubat yang kesohor sebagai bagian dari seribu tahun kerajaan, Sunda Galuh di Ciamis. Perang menegaskan martabat semata bukan itungan kekuatan senjata.

Berita ini 52 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

El Nino Diprediksi Sampai 2027: Asap Sudah Sampai Filipina

Artikel

MENYULAP SARITEM JADI DARAT TAUBAH

Artikel

Bougenville Tanaman Hias Cantik Tahan Panas Tropis

Artikel

Napak Tilas Perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Ibadah Haji

Artikel

Apresiasi Tinggi kepada, Presiden Prabowo Subianto, Proyek LNG Abadi Masela : Kick off

Artikel

DUA ABAH DIBALIK NAMA PONDOK PESANTREN SURYALAYA 

Artikel

KURING Muslim, ANA Sunda.
Seminggu Lagi Imlek! Menyambut Tahun Kuda Api 2026: Ini Daftar Shio yang Bakal "Hoki Besar" dan Shio yang Harus Waspada (Ciong)!

Artikel

Seminggu Lagi Imlek! Menyambut Tahun Kuda Api 2026: Ini Daftar Shio yang Bakal “Hoki Besar” dan Shio yang Harus Waspada (Ciong)!