Oleh: DEDI ASIKIN
Koransakti.co.id- H. Uton Fathoni teman saya sesama anggota Pokja wartawan liputan Kemenag suka menggunakan istilah kastrologi untuk mengibaratkan solidaritas sesama santri
Zaman dahulu santri itu inhren (indentik) dengan kegiatan ngaliwet, masak dengan media/alat kastrol
Maka itulah Uton menyebutnya dengan istilah kastrologi.
Secara umum kegiatan yang me legenda itu nyaris sudah punah. Di beberapa Pondok yang sudah maju dengan santri ribuan sudah diganti dengan catering. Atau beberapa kelompok santri memakai jasa ibu ibu yang tinggal di sekitar pondok.
Waktu acara tour de pasantren kami sekitar tahun 2015, kami masih menemui budaya liwet itu.
Dari 40 Pondok di Jawa Barat yang kami kunjungi itu ada pondok Al falaqiyah desa Cikoneng kabupaten Sumedang, Darus surur kota Cimahi dan Cintapada di kota Tasikmalaya.
Di Darus surur ada 20 orang santri yang biasa memasak nasi liwet Cuma alatnya sekarang sudah berubah, tidak menggunakan katrol tapi dengan katel. Asep yang sering kebagian tugas ngaliwet menyebut katel itu bisa di pakai untuk 1,5 liter beras dan cukup untuk 8 orang santri. Yang belanja bahannya Rois (santri senior)
Kami makan cuma nasi liwet dan tumis kangkung ujar Asep tersipu-sipu.
Di Cintapada kota Tasikmalaya kebiasaan masak itu terjadi hampir setiap malam Jum’at sekalian tasyakur ucap pimpinan pondok KH Achmad Fauzie.
Secara kebetulan acara makan liwet di Cintapada itu persis ketika kami berada dan memiliki tidur di pasar di Cibeureum (dekat Lanud Wiriadinata kota Tasikmalaya).
Bari liwet plus lauk pauk goreng ayam dan goreng ikan plus tak ketinggalan tumis kangkung, di letakkan di atas daun pisang yang berderet sekitar 10 meter.
Pada waktunya seluruh santri duduk berhadapan di tengah makanan di atas daun pisang itu. Setelah membaca doa bersama , maka mulailah mereka meyerbu makanan itu. Pimpinan pondok beberapa orang ustadz dan kami di ajak serta
Nikmat, kata Eka Purwanto setelah menyikat makanan dengan lahap. Mukanya merah kepedasan.















