koransakti.co.id- Pernahkah Anda membayangkan situasi di mana pemerintah atau perusahaan penyedia listrik justru membayar Anda hanya karena Anda menyalakan mesin cuci atau merebus air? Fenomena unik ini bukan lagi sekadar khayalan. Di beberapa negara maju seperti Jerman, Australia, Spanyol, dan Inggris, masyarakat kini mulai menikmati fasilitas listrik gratis, bahkan terkadang mendapatkan insentif berupa uang saat menggunakan setrum.
Lantas, bagaimana fenomena ini bisa terjadi?
Lonjakan Energi Hijau yang Tak Terbendung
Penyebab utama di balik fenomena ini adalah pertumbuhan masif instalasi energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin. Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), kapasitas tenaga surya global di prediksi akan melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030. Bahkan, pasokan ramah lingkungan ini di perkirakan mampu memenuhi hampir 90% pertumbuhan kebutuhan listrik dunia.
Sebagai contoh, Australia mengalami ledakan pemasangan panel surya di atap-atap rumah warga. Ketika matahari terik di siang hari, panel-panel ini memproduksi listrik dalam jumlah yang sangat besar. Ironisnya, pada jam-jam tersebut, tingkat konsumsi listrik rumah tangga justru sedang rendah-rendahnya karena mayoritas warga sedang beraktivitas di luar rumah.
Mengapa Harga Listrik Bisa Menjadi Negatif?
Ketika pasokan listrik dari alam melimpah ruah sementara permintaan dari konsumen sangat rendah, hukum pasar pun berlaku. Harga listrik di pasar grosir (tempat pembangkit menjual listrik ke perusahaan distribusi) akan merosot tajam hingga menyentuh angka negatif.
Logikanya sederhana: Operator sistem kelistrikan harus menjaga keseimbangan beban jaringan agar tetap stabil. Jika kelebihan muatan dan tidak segera disalurkan, sistem bisa mengalami gangguan fatal atau bahkan blackout massal, seperti yang sempat melanda Spanyol dan Portugal pada tahun 2025.
Karena kapasitas baterai raksasa untuk menyimpan kelebihan energi ini masih terbatas, operator tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa “membuang” kelebihan listrik tersebut dengan cara memberikannya secara cuma-cuma, atau dalam skenario ekstrem, membayar konsumen agar mau menyerap kelebihan setrum tersebut.
Siapa Saja yang Diuntungkan?
Meski harga negatif ini terjadi di pasar grosir, efeknya mulai terasa langsung oleh konsumen akhir melalui beberapa skema:
Pengguna Tarif Fleksibel: Konsumen yang memilih kontrak tarif dinamis dapat menyesuaikan aktivitas harian mereka—seperti mengisi daya mobil listrik atau menyalakan perangkat elektronik berat—pada jam-jam khusus saat harga setrum menyentuh angka nol atau negatif.
Pemilik Sistem Pintar dan Baterai: Warga yang memiliki baterai penyimpanan di rumah menjadi pihak yang paling diuntungkan. Mereka bisa menyerap listrik gratis di siang hari, menyimpannya, lalu menggunakannya pada malam hari saat harga listrik kembali normal atau mahal.
Langkah Adaptasi Negara-Negara Dunia
Melihat tren ini, banyak negara mulai mengubah strategi manajemen energi mereka. Mulai musim panas 2026, Operator Sistem Energi Nasional Inggris (NESO) secara aktif mendorong rumah tangga dan pelaku usaha untuk meningkatkan konsumsi listrik mereka saat produksi tenaga surya sedang mencapai puncaknya.
Langkah proaktif ini menjadi sangat krusial. Pasalnya, semakin kita bergantung pada cuaca, semakin tinggi pula tuntutan bagi sistem kelistrikan untuk menjadi lebih fleksibel dan adaptif di masa depan. (melly)
Baca juga: Paradok Batubara Indonesia: Produksi 790 Juta Ton tapi PLN Kekurangan 20 Juta Ton















