Home / Opini

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:28 WIB

Paradok Batubara Indonesia: Produksi 790 Juta Ton tapi PLN Kekurangan 20 Juta Ton

koransakti - Penulis

Paradok Batubara Indonesia: Produksi 790 Juta Ton tapi PLN Kekurangan 20 Juta Ton

Koransakti.co.id- PLN merupakan salah satu BUMN strategis yang menyangkut kehidupan masyarakat. Aktivitas di rumah tangga, tempat kerja, perjalanan, hingga rumah sakit semuanya membutuhkan listrik. Genset hanya mampu menjadi solusi sementara, bukan permanen. Bila ingin tahu bagaimana rasanya blackout selama tiga hari, tanyakan kepada sekitar 50 juta penduduk Pulau Sumatera yang mengalaminya pada akhir Mei lalu.

Sayup-sayup kita mendengar kembali pemadaman listrik bergilir di sebagian wilayah Pulau Jawa.

Walaupun awalnya di tutupi, akhirnya jelas salah satu penyebabnya adalah PLN kekurangan pasokan batu bara 20 juta ton.

Kebutuhan PLN sekitar 154 juta ton: pasokan batubara terkontrak 134 juta ton.

Baca juga :   Beda Habibie dan Prabowo

Bagaimana mungkin negara yang merupakan produsen batubara terbesar ketiga di dunia justru membuat BUMN strategisnya kekurangan batu bara? Padahal sudah ada kebijakan DMO (domestic market obligation) yang mewajibkan produsen menyalurkan sebagian produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk PLN.

Pemerintah membentuk Tim Pengawasan dan Pengadaan Batu Bara. Langkah ini baik untuk mengatasi krisis, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa entitas yang menangani pengadaan batu bara di PLN belum berfungsi optimal. Bukankah PLN sudah memiliki PT PLN Batu Bara Niaga? Jika tidak mampu menjamin pasokan, untuk apa entitas tersebut di pertahankan?

Jadi sebenarnya kekurangan pasokan batu bara PLN bukan karena batu bara tidak ada, tapi CEO PLN (yang baru di perpanjang masa baktinya) dan entitas di bawahnya gagap merespons lingkungan strategis yang terkait pasokan batu bara.

Baca juga :   PLN Kembali Beri Diskon Tambah Daya Listrik 50% Hingga 17 September 2025

Pada saat harga batu bara di luar negeri sekitar US$150/ton (jauh lebih tinggi dari harga DMO), wajar produsen batu bara lebih memilih menjual ke luar negeri, dan memilih membayar denda daripada memenuhi kewajiban DMO. Fenomena inilah yang harus di respons secara manajerial pada level CEO PLN. Opsinya negosiasi melalui fleksibilitas harga atau blackout yang menyusahkan masyarakat pelanggan. Tugas CEO memang mengambil keputusan dan menantang risiko.

Semoga pasokan batu bara PLN segera menemukan solusi terbaik untuk pelanggan. InsyaAllah.

Penulis:

Baca juga: Tarif Listrik April–Juni 2026 Tetap Stabil, Pemerintah Jaga Daya Beli dan Keandalan Energi Nasional

Berita ini 16 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Sekitar 175 juta Rakyat Indonesia mengonsumsi Tempe Terdampak : Melemahnya Rupiah terhadap dolar

Ekonomi

Pemangkasan Anggaran MBG akan Hemat Rp235 Triliun

Opini

Sejak Reformasi: Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang Berani “Merombak dan Menata Ulang” BUMN

Opini

Mata Uang Rupiah Sakit: Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

Opini

ACEH MENGGELIAT, REINKARNASI GAM ?

Jambi

Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

Opini

Indonesia Beli Produk Perancis Lebih Rp 116 triliun: “Tu peux nous aider” Nya Apa?
Kesehatan Perkotaan Tumbuh Hampir 8 % : Tidak berhubungan dengan Kesehatan Rakyat Kecil

Opini

Kesehatan Perkotaan Tumbuh Hampir 8 % : Tidak berhubungan dengan Kesehatan Rakyat Kecil