Home / Artikel

Senin, 24 Maret 2025 - 18:57 WIB

BANJIR BALEENDAH DAN LILI SUMANTRI

koransakti - Penulis

Oleh : Dedi Asikin

Koran Sakti.co.id, Bandung- Bale Endah banjir lagi.

Sebenarnya, itu bukan berita aneh. Itu mah sudah biasa

Sudah langganan, tiap ada hujan, pasti lah Bandung Selatan kakeueum. Cuma tahun ini terjadi cuaca ekstrem, kata BMKG.

Saya dulu kadang keki, jika ada orang langsung bilang banjir ya, ketika omon omon tentang Bale Endah. Itu bukan sekedar satir, itu mah nyindir dan nyinyir, ngenye rasanya.

Bagi saya itu tidak aneh, itu mah pengalaman rutin.

38 tahun saya tinggal disana.

Banjir yang paling gede terjadi tahun 1985.

Untuk bisa keluar komplek harus naik perahu dari bawah monumen perjuangan sampai di depan Yon Zipur Dayeuhkolot.

Sesungguhnya banjir Bale Endah bukan hanya sekarang sekarang ini.

Sejak abad 18 , konon sudah mulai caah itu.

Itu sebabnya tahun 1811 ibu kota kabupaten Bandung dipindah dari Krapyak/, Dayeuhkolot ke kota Bandung.

Ada dua alasan kenapa Gubernur Jendral Hindia Belanda Willem Herman Daendels memerintahkan bupati Wiranatakusumah II memindahkan ibu kota. Pertama ya soal banjir. Yang kedua agar ibu kota kabupaten Bandung berada dipinggir jalan De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos yang sedang dibangun dari Merak Banten sampai Panarukan (sekarang Situbondo), Jawa Timur.

Bicara soal banjir Bale Endah yang tidak tahu sudah berapa banyak kerugian yang diderita, Pemerintah dan masyarakat, saya jadi ingat pak Lili Sumantri mantan Bupati Bandung (1969-1974). Saya dua kali bertemu beliau pasca banjir besar 1985.

Baca juga :   Ciptakan Lingkungan yang Aman Polda Jambi Laksanakan Operasi Pekat II Siginjai 2025

Pertama di rumah Bale Endah yang baru surut dari rendaman air. Dua hari kemudian bertemu lagi di rumah Jalan Progo kota Bandung. Ada dokumen yang mau diberikan kepada saya, tapi ada di rumah Jl.Progo.

Meski sudah berhenti cukup lama (11 tahun) tapi dia masih gregetan dengan pemindahan ibu kota kabupaten Bandung ke Soreang (PP NO.2/ 1986).

Padahal dia merasa Bale Endah paling cocok.

Dia sudah membangun Bale Endah , dan 90% perangkat pemerintahan sudah berkantor di sana termasuk DPRD. Yang belum pindah tinggal ruang kerja bupati dan Satpol PP.

Lili dengan nafas sedikit ngos-ngosan, membantah alasan membatalkan Bale Endah oleh Menteri Dalam Negri Amir Mahmud.

Katanya ada 3 hal yang dikemukakan sebagai alasan. Pertama soal jarak terlalu dekat, soal banjir dan daya dukung tanah.

Soal terlalu dekat dengan kota Bandung, Lili membandingkan dengan kabupaten Cirebon. Jarak kota Cirebon dengan Sumber itu cuma 6 km, sedang kota Bandung ke Bale Endah 11 km.

Soal daya dukung tanah, Lili menunjuk Gedung DPRD yang sudah dibangun dua lantai, tidak ada masalah.

Soal banjir Lili menyebut beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mencegah amuk Citarum.

“Dulu saya sudah minta wewenangnya berikan ke Kabupaten/Bupati. Tapi pusat tak memberikan”.

Saya punya kiat menaklukkan banjir Bale Endah itu.

Baca juga :   PENGARUH GAME ONLINE TERHADAP GENERASI MUDA

Pertama penataan di hulu sungai . Citarum itu berhulu di Gunung Wayang Desa Tarumajaya kecamatan Kertasari kabupaten Bandung.

Ada tujuh mata air yang ditampung di sebuah danau buatan bernama Cisanti, sebelum mengalir sampai kabupaten Karawang (melewati 8 kabupaten).

Kondisi lahan di hulu sungai telah rusak akibat alih lahan dan kurangnya resapan air.

Disana itu lahan hutan lindung sudah berubah jadi lahan kegiatan pembangunan dan ekonomi.

Maka terjadi runtuhan tanah yang menyebabkan pendangkalan di aliran sungai

Hal lain banyaknya kelokan sungai yang memperlambat aliran sungai.

Sampah yang tidak terkendali dan ada batu besar di Parunghalang yang menghalanginya aliran air.

Saya akan menertibkan hulu sungai agar sesuai dengan RTRW.

Melakukan pelurusan supaya arus air lebih lancar, pengerukan sungai supaya daya tampung air lebih besar. Dan satu lagi membobol batu yang menghalanginya aliran sungai di Parunghalang.

Juga pembuatan sekitar 25 buah embung (di kabupaten Bandung).

Memang ada problem alam, yaitu tumpah ruahnya air dari 14 sungai kecil di kota Bandung yang tumplek ke sungai Citarum.

Tapi itu bisa kordinasi terus menerus dengan walikota.

Pokoknya kalau waktu itu pusat memberikan wewenang kepada kabupaten, sudah beres tu banjir.

Belanda mah bikin negara dibawah laut, katanya, mengakhiri pertemuan ( wawancara) dengan saya.

Iya begitu saja repot ya pak Bup.

Semoga pak Lili Sumantri dilapangkan dialam quburnya.

Aamiin yra.***

Berita ini 158 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

KORUPSI SE JAGAT RAYA 

Artikel

PAGAR MAKAN LAUTAN TIME BOMB OF JOKOWI ?

Artikel

Jambu Biji Merah: Sumber Kesehatan Alami yang Wajib Anda Ketahui!
Mengenal Anemia (Kurang Darah): Bukan Sekadar Lelah Biasa, Ini Gejala & Cara Mencegahnya

Artikel

Mengenal Anemia (Kurang Darah): Bukan Sekadar Lelah Biasa, Ini Gejala & Cara Mencegahnya

Artikel

“Jejak Kasus Korupsi di Kementerian Agama, Dari Masa ke Masa hingga Terbaru”

Artikel

PENDIRI KERAJAAN MAJAPAHIT TERNYATA URANG SUNDA

Artikel

Gen Z Mengajarkan Kita Efisiensi: Menikah di KUA Biaya Rp 0,-

Artikel

LEBARAN, WUJUD KASIH SAYANG