Home / Artikel

Senin, 21 April 2025 - 15:29 WIB

R.A KARTINI OJO DIBANDING BANDINGKE

koransakti - Penulis

OLEH : DEDI ASIKIN

Koran Sakti.co.id- Hari ini (21 April) adalah hari Kartini.

Semua orang tahu siapa Perempuan yang lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 itu adalah salah satu tokoh pahlawan Nasional yang telah berjuang untuk pendidikan kaum wanita bumi putera dan kesetaraan gender.

Dikenal populer dengan sebutan emansipasi.

Kebetulan saya baru selesai menulis buku biografi ibu Raden Dewi Sartika.

Sekarang rancang buku itu sedang ditelaah oleh Yayasan Dewi Sartika, yang meminta saya menulis buku tentang pahlawan wanita dari tatar Sunda itu.

Dalam buku itu RDS itu, saya menulis sebuah judul “Ojo dibanding bandingke”.

Tulisan itu dibuat lantaran ada yang membandingkan antara Raden Ajeng Kartini dengan Raden Dewi Sartika.

Salah satunya sastrawan WS Rendra. Dia menyebut kesamaan mereka adalah tujuan perjuangan, membebaskan kaum perempuan dari kebodohan dan belenggu adat.

Disebutkan juga oleh Rendra keduanya memiliki ciri ciri fisik yang sama, lincah dan terkesan tomboy.

Tapi Rendra menyebut perbedaan sikap mereka dalam menerima jodoh. Dewi Sartika kukuh menolak perjodohan oleh orang tua (ibunya, Raden Ayu Rajapermas). Pernah seorang pangeran dari Banten bernama Raden Djajadiningrat, melamar lewat ibunya. Ketika lamaran itu disampaikan kepada RDS, Uwi , panggilan akrab keluarga , menolak dengan tegas. Menurutnya pernikahan itu harus berbasis cinta dan dijalani dengan prinsip kebersamaan.

Baca juga :   Ketenangan, Kemenangan yang Tidak Bersuara

Sebaliknya kata Rendra, Raden Ajeng Kartini menerima perjodohan dari orang tua dan menikah dengan Bupati Rembang Kangjeng Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat. Padahal sang bupati sudah punya 3 isteri.

Padahal pula mereka (RAK dan RDS) sama sama anti poligami.

Dalam tulisan berjudul Ojo dibanding bandingke itu, saya sebut situasional bisa terjadi dan tak bisa dihindarkan.

Dalam bahasa Sunda ada ungkapan, Ciri sabumi cara sadesa, jawadah tutung biritna sacarana sacarana. Atau dalam peribahasa Melayu, Lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya.

Jadi ojo dibanding bandingke. Yang penting kesamaan tujuan yaitu membebaskan kaum perempuan dari kebobolan dan belenggu adat yang mengikat. Lagi pula perbedaan itu sebuah keniscayaan.

Sebuah fitrah. Mungkin surat Ad dzariyat 49 ada relevansinya tentang perbedaan itu , :

“Wa ming kulli syai’in khalaqnaa zauzanii la’allakum tadza karuhun”.

(Segala sesuatu kami ciptakan berpasang pasangan agar kamu mengingat (kebesaran) Allah).

Dan mereka RAK dan RDS telah berjuang secara bersama Perbedaan pasti ada dibalik kesamaan yang prinsipal.

Dan secara umum perjuangan mereka telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengoklah kemajuan perempuan kita sekarang.

Mereka sudah bisa menempati hampir semua pekerjaan yang dulu hanya dikerjakan kaum laki-laki saja.

Baca juga :   Rakor Terbatas Kejadian Luar Biasa Program Makan Bergizi Gratis

Guru, dosen, guru besar, dokter, penerbang, bupati, gubernur bahkan presiden. Siapa takut.

Saya juga pernah menulis dengan judul Kartini Kartini lain yang juga berjuang sama, untuk kemajuan kaum perempuan bumi Ungkapan setiap orang ada masanya setiap masa ada orangnya, relevan dengan kenyataan sejarah ini.

Ada Rohana Kudus dari Agam Sumatera Barat. Dia yang mendirikan lembaga pendidikan perempuan dan menjadi wartawan perempuan pertama di Nusantara.

Ada Rangkayo Rasuna Said juga dari Sumatera Barat.

Cut Nyak Dien yang berjuang lewat moncong senjata.

Dia kehilangan dua suami dalam perang Aceh. Dia sendiri ditangkap Belanda dan dibuang ke Sumedang (wafat di sana tahun 1908).

Di Banten ada Nyi Ageng Serang yang berontak kerena perjanjian Giyanti memberatkan rakyat Banten.

Atau jauh sebelumnya ada Laksamana Malahayati, yang lahir tanggal 1 Januari 1550. Dia perempuan pertama yang menyandang pangkat Laksmana dan menjadi panglima angkatan Laut Kesultanan Aceh.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan taqdim kepada ibu kita Kartini, patutlah kita hormati pula perjuangan wanita wanita lain. Termasuk beberapa lagi yang tidak saya sebutkan dalam tulisan ini.

Hampir semua mereka telah dianugerahi gelar pahlawan Nasional.

Selamat hari Kartini.

Jayalah wanita Indonesia. Power to Indonesian Women. ***

 

Berita ini 245 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Tata Cara Sholat Nisfu Syaban dan Keutamaannya.
Mau Komisi Jutaan? Cara Daftar Shopee Affiliate 2025 Tanpa Minimal Followers

Artikel

Cuma Modal “Share Link” Bisa Dapat Gaji Jutaan? Ini Cara Daftar Shopee Affiliate Program 2026. Cocok Buat Pelajar & Ibu Rumah Tangga!

Artikel

MADRASAH ITU CUMA ANAK ANGKAT

Artikel

BAHLIL KOK KAYA BAHLUL
Pojok Sains: Kenapa Mengiris Bawang Bikin Mata Perih & Menangis? (Ada Senjata Kimianya!)

Artikel

Kenapa Potong Bawang Bikin Nangis? Ternyata Ada “Serangan” Asam Sulfat ke Mata Kita!

Artikel

BUBAT, PERANG MEMBELA MARTABAT 
Malam Minggu Kelabu di Rumah? Maraton 3 Film & Drakor Netflix Ini Aja Sambil Nunggu Sahur, Dijamin Bikin Melek dan Lupa Waktu!

Artikel

Malam Minggu Kelabu di Rumah? Maraton 3 Film & Drakor Netflix Ini Aja Sambil Nunggu Sahur, Dijamin Bikin Melek dan Lupa Waktu!

Artikel

KASUS INVESTASI BODONG DITANGAN KEJAGUNG