Home / Sains

Selasa, 3 Maret 2026 - 15:52 WIB

Jadwal Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 di Indonesia dan Jam Puncaknya

koransakti - Penulis

Ilustrasi fase Gerhana Bulan Total yang menunjukkan perubahan warna Bulan menjadi kemerahan (Blood Moon) saat berada di dalam umbra bumi.

Ilustrasi fase Gerhana Bulan Total yang menunjukkan perubahan warna Bulan menjadi kemerahan (Blood Moon) saat berada di dalam umbra bumi.

koransakti.co.id- Malam ini, Selasa (3/3/2026), langit Indonesia akan menyuguhkan fenomena astronomi yang sangat langka dan memukau. Oleh karena itu, bagi Anda pecinta keindahan langit, momen Gerhana Bulan Total ini tidak boleh dilewatkan. Secara khusus, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengonfirmasi bahwa seluruh wilayah Indonesia memiliki kesempatan untuk menyaksikan detik-detik saat Bulan perlahan tertutup oleh bayangan Bumi. Meskipun demikian, faktor cuaca di wilayah masing-masing, seperti tutupan awan atau hujan, tetap menjadi penentu utama kualitas pengamatan fenomena yang juga dikenal dengan sebutan Blood Moon ini.

Hal ini menarik karena fenomena 3 Maret 2026 ini merupakan satu-satunya Gerhana Bulan yang dapat diamati dari Indonesia sepanjang tahun ini. Oleh sebab itu, para pengamat tidak memerlukan kacamata khusus seperti pada Gerhana Matahari; fenomena ini aman dilihat langsung dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu seperti teropong dan teleskop. Selain itu, durasi totalitas yang cukup lama memberikan banyak waktu bagi para fotografer untuk mengabadikan perubahan warna Bulan yang eksotis. Sebagai tambahan, rincian waktu serta penjelasan sains di balik warna merah Bulan telah kami rangkum untuk menemani waktu pengamatan Anda malam ini.

Oleh karena itu, pastikan Anda sudah bersiap di luar ruangan sebelum fase totalitas dimulai. Dengan demikian, Anda dapat menyaksikan proses masuknya Bulan ke dalam umbra Bumi yang sangat presisi secara visual. Sebagai informasi, fenomena ini merupakan bagian dari seri Saros 133, sebuah siklus gerhana yang berulang setiap 18 tahun sekali. Akhirnya, kehadiran Blood Moon di langit Indonesia malam ini bukan hanya sekadar pemandangan cantik, tetapi juga pengingat akan mekanisme tata surya yang luar biasa dan tertata rapi.

Baca juga :   Kenapa Makan Permen Mint Terasa "Dingin"? Kenalan dengan Menthol (C10H20O), Si Penipu Suhu!

Jadwal Lengkap Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026

Berikutnya, berikut adalah rincian waktu penting yang perlu Anda catat berdasarkan zona waktu masing-masing:

  • Awal Gerhana (Fase Penumbra): 18.03.56 WIB

  • Puncak Gerhana (Totalitas):

    • WIB: 18.33.39

    • WITA: 19.33.39

    • WIT: 20.33.39

  • Fase Totalitas Berakhir: (Menyesuaikan durasi 59 menit 27 detik)

  • Akhir Seluruh Fenomena: 21.24 WIB

Statistik Fenomena:

  • Durasi Total: 5 jam 41 menit 51 detik.

  • Durasi Fase Totalitas: 59 menit 27 detik.


Mengapa Bulan Menjadi Merah (Blood Moon)?

Selanjutnya, muncul pertanyaan mengapa Bulan tidak menjadi gelap total, melainkan berwarna merah tembaga saat gerhana total berlangsung:

Hal ini terjadi karena adanya fenomena yang disebut Hamburan Rayleigh. Meskipun Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, atmosfer Bumi masih mampu membiaskan cahaya Matahari. Atmosfer menyaring spektrum cahaya biru dan hanya menyisakan spektrum merah-oranye untuk diteruskan ke permukaan Bulan.

Baca juga :   Pojok Sains: Resolusi 2026 Mau Berubah Total? Jangan Percaya Mitos "21 Hari"! Riset Otak Buktikan Butuh Waktu Lebih Lama dari Itu

Warna merah ini bisa sangat bervariasi tergantung pada kondisi atmosfer Bumi saat ini. Jika di atmosfer banyak terdapat partikel debu vulkanik atau polusi, warna merah pada Bulan akan terlihat semakin gelap atau merah tua. Sebaliknya, jika langit bersih, Bulan akan tampak merah terang atau jingga kecokelatan.


Tips Pengamatan dari Wilayah Indonesia

Berikutnya, agar Anda mendapatkan pengalaman pengamatan yang maksimal, perhatikan beberapa tips berikut:

  1. Cari Lokasi yang Minim Polusi Cahaya: Meski tetap terlihat di kota besar, wilayah dengan langit gelap akan membuat warna merah Bulan tampak lebih dramatis.

  2. Pantau Prakiraan Cuaca BMKG: Mengingat saat ini bulan Maret, beberapa wilayah di Indonesia masih berpotensi hujan. Pantau satelit awan untuk mencari lokasi pengamatan terbaik.

  3. Gunakan Tripod untuk Fotografi: Karena kondisi cahaya yang minim saat totalitas, gunakan tripod untuk menghindari gambar yang goyang (blur) saat mengambil foto eksposur lama.

  4. Nikmati Puncak Gerhana: Momen puncak pada pukul 18.33 WIB adalah waktu di mana Bulan berada di titik terdalam bayangan Bumi.

  5. Ajak Keluarga: Fenomena ini adalah sarana edukasi sains yang sangat baik bagi anak-anak untuk mempelajari posisi benda langit secara langsung.

Berita ini 23 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Pojok Sains: Kenapa Jari Jadi Keriput Setelah Mandi Lama? Ternyata Bukan Karena 'Masuk Angin'!

Artikel

Sering Dikira Bengkak, Ternyata Ini Alasan Jenius Kenapa Jari Tangan Kita Jadi Keriput Kalau Kelamaan Berendam di Air!
Pojok Sains: Besok Cuma Ganti Angka, Kok Kita Yakin Nasib Bakal Berubah? Kenalan yuk sama "Optimism Bias", Fitur Otak yang Bikin Kita Bertahan Hidup!

Fakta Unik

Pojok Sains: Besok Cuma Ganti Angka, Kok Kita Yakin Nasib Bakal Berubah? Kenalan yuk sama “Optimism Bias”, Fitur Otak yang Bikin Kita Bertahan Hidup!
Lebih dari Sekadar "Asap Pelarian": 7 Fakta Unik Fungsi Tinta Cumi-Cumi

Fakta Unik

Lebih dari Sekadar “Asap Pelarian”: 7 Fakta Unik Fungsi Tinta Cumi-Cumi
Kenapa Air Tak Mempan Cuci Minyak? Kenalan dengan Sabun (C17H35COONa), Si "Agen Ganda" yang Jenius!

Artikel

Kenapa Air Tak Mempan Cuci Minyak? Kenalan dengan Sabun (C17H35COONa), Si “Agen Ganda” yang Jenius!

Internasional

WHO Luncurkan Forum Uji Klinis Global, Indonesia Masuk Jajaran Anggota Pendiri
5 Cara Dapat Saldo Google Play Gratis 2025 (Resmi dari Google & Aplikasi Lain)

Fakta Unik

Review Google Opinion Rewards 2026: Cara Paling ‘Sultan’ Dapat Saldo Play Store Gratis (Resmi Google)
Pojok Sains: Fenomena Déjà Vu, Benarkah Kita Pernah Mengalaminya di Kehidupan Masa Lalu?

Fakta Unik

Pojok Sains: Fenomena Déjà Vu, Benarkah Kita Pernah Mengalaminya di Kehidupan Masa Lalu?
Pojok Sains: Kenapa Lagu Natal (atau TikTok) Terus Terngiang di Kepala? Misteri Fenomena "Earworms" Terpecahkan!

Fakta Unik

Sains: Kenapa Lagu Natal (atau TikTok) Terus Terngiang di Kepala? Misteri Fenomena “Earworms” Terpecahkan!