Koransakti.co.id- Dana pensiun pegawai memang menjadi sasaran empuk penggelapan dan manipulasi. Di Indonesia, cerita pilu tentang penggarongan dana pensiun: baik milik Badan Usaha Milik Negara maupun swasta bisa di buat 100 di sertasi doktor untuk mengulitinya. Bahkan perkaranya berbuntut panjang sampai sekarang.
Mengapa dana pensiun selalu menjadi sasaran empuk penggelapan berkedok investasi? Karena dana pensiun merupakan dana segar dan relatif mudah di cairkan bila manajemen pengelola setuju. Tidak serumit seperti proses pinjaman kredit bank.
Terbongkarnya kasus Dana Pensiun Publik Malaysia oleh perusahaan Startup eFishery yang menyebabkan kerugian sekitar Rp 850 miliar bermula dari whistleblower yang melaporkan: kemudian di lakukan penyelidikan oleh Dewan Pengawas Internal yang menunjuk FTI Consulting: perusahaan yang fokus mengusut penipuan dan audit forensik. Akhirnya terkuak manipulasi laporan keuangan yang berujung: penipuan dan penggelapan dana investor.
Akhirnya masalah penggelapan dan manipulasi oleh perusahaan Startup eFishery menjadi masalah politik sampai ke Dewan Negara Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sudah meminta “Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia” mengusut tuntas kasus penggelapan dan penipuan investasi Dana Pensiun Publik dan meminta KWAP (Kumpulan Wang Persaraan) -semacam Pengelola Dana Pensiun- untuk kooperatif.
Karena perusahaan Startup yang terlibat berasal dari Indonesia, semoga kasus ini cepat menjadi terang dan tidak sampai merusak hubungan antarnegara.
Kepada Pengelola Dana Pensiun, kita ingatkan berhati-hati dan correct: karena mengelola dana segar yang besar: menjadi incaran “Monster” berkedok investor. Dan jutaan orang berharap imbal positif dari dana pensiun miliknya, sehingga dapat hidup layak di saat usia senja.
Cukup sudah kasus Jiwasraya, Asabri dan juga kasus Taspen menjadi catatan hitam sejarah dana pensiun di Indonesia. InsyaAllah.
Penulis:















