DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Lebaran itu identik dengan kasih sayang.
Lebaran memang momentum menyambung silaturahmi.
Silaturahmi itu berasal dari bahasa Arab. Silah artinya hubungan, rahmi kasih sayang. Jadi artinya ,hubungan kasih sayang diantara sesama mukminin.
“Innamal mu’minuuna ikhwatun,fa aslihu baina akhawaikum wattaqullaaha la ‘allakum tur hamun”
(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karenanya damaikanlah kedua orang saudaramu yang berselisih itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat Rahmat).
Ada juga beberapa ayat lain yang berkaitan dengan perintah dan tuntunan menggalang silaturahmi itu.
Misalnya An Nissa ayat 1 dan ayat 36, An Nahl 90, Asy Syura 23, dan Muhammad 22,23.
Juga ada beberapa hadits Rasul:
“Beribadahlah kepada Allah SWT dengan sempurna dan jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara (HR Bukhari)
Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan (silaturahmi).
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi (HR Abu Hurairah).
“Inna rohmata la tanzilu alal qaumil fihim kotiu rohiimin”.
(Tidak turun rahmat Allah kepada kaum yang tidak menjalin silaturahmi).
Jika dikaitkan dengan budaya mudik atau pulkam, maka nilai silaturahmi itu semakin tinggi. Tak bisa dihitung dengan angka. Tak ada dalil matematisnya.
Setiap tahun berjuta orang pulang mudik. Tak lain untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga, terutama orang tua yang masih ada.
Semua itu bernilai kasih sayang. Tak peduli lelah, biar bekal habis jutaan. Bahkan ada yang berdarah darah.
Bagaimana budaya yang dipicu tuntunan Allah dan Rasul itu bisa dihilangkan kerena hitung hitungan materi ?
Rasa rasanya tak mungkinlah itu.
Biarlah lebaran itu tetap bermakna kasih sayang.
Selamat hari raya Idul Fitri 1446 H.***















