Bukan Sekadar “Radio Butut”: Menguji Nyali Lewat Rumus “Lima AT”
koransakti.co.id- Di era digital ini, semua orang bisa mengaku sebagai pencari berita. Namun, dalam dunia jurnalistik yang sesungguhnya, ada jurang pemisah yang lebar antara seorang jurnalis sejati dengan mereka yang sekadar menjadi “radio butut” atau “calo berita” yang sibuk petantang-petenteng dengan atribut, tetapi minim karya nyata.
Menjadi wartawan hebat bukan soal gaya, melainkan soal prinsip vivere pericoloso hidup menyerempet bahaya demi sebuah fakta. Untuk mencapai level itu, seorang jurnalis harus di uji melalui rumus sakral yang di sebut “Lima AT”. Sebuah formula yang menggabungkan bakat alam, keringat, hingga akal sehat.
Pilar pertama dari formula ini di mulai dari sesuatu yang tidak bisa di beli, yaitu
1. Bakat (at). Antara Seni Menulis dan Mental “Selonong Boy”
Bakat ini adalah aspek yang dilahirkan. Tak semua orang bisa melakukannya.
Proses kerja seorang wartawan sampai bisa menyajikan informasi kepada khalayak di mulai dengan mencari bahan berita. Dalam bahasa kami di sebut liputan. Itu bukan pekerjaan mudah. Banyak kendala yang menghalangi. Salah satu di antaranya sikap para birokrat yang tak mau membuka informasi seluas-luasnya.
Pengalaman Menghadapi Ajudan Bupati Saya pernah dibohongi seorang ajudan Bupati di Tasikmalaya. Waktu mau ketemu bupati dalam kasus penyelewengan proyek pembangunan, sang ajudan bilang bupati sedang tidak ada. Tapi rupanya bupati mendengar percakapan itu. Dia keluar, dan begitu melihat saya langsung bilang, “Eh bung Dedi yah, sok kalebet.” Dan saya setengah loncat masuk ruangan penguasa kabupaten Tasikmalaya itu. Tak saya perhatikan raut muka sang ajudan, mungkin tersipu malu.
Dalam tahap liputan seorang wartawan kadang harus nekad. Sering kali harus “selonong boy”. Dengan cara vivere pericolosamente (bahasa Italia) kalau kata Bung Karno, yang artinya hidup penuh bahaya atau hidup menyerempet bahaya.
Setelah itu, bakat yang sesungguhnya dari seorang wartawan adalah menulis berita atau artikel. Di sinilah faktor di lahirkan di uji dengan merangkum fakta dan di olah dengan bahasa agar menjadi berita yang mudah di cerna pembaca. Tak semua wartawan bisa meramu bahasa berdasarkan fakta menjadi sebuah tulisan atau berita dengan susunan kata yang tertata baik, mudah dibaca, dan memenuhi unsur 5W + 1H (What, Who, Why, When, Where, dan How).
Sindiran untuk “Radio Butut”
Banyak wartawan yang cuma jadi “radio butut” atau “calo berita”. Ia menceritakan data yang di dapat kepada wartawan lain atau kepada redaktur. Yang ia dapatkan cuma jempol satu atau dua tangan. Tapi di luar dia berlaga “pangwartawana”. Petangtang-petenteng dengan kamera dan tape recorder.
2. Minat (at): Bahan Bakar Utama Jurnalis
Punya bakat tak ada minat tentu urung jadi pekerja jurnalistik. Bakat yang besar akan mati suri jika tidak dibarengi dengan hasrat dan ketertarikan yang kuat pada dunia perberitaan.
3. Semangat (at): Menembus Batas Jam Kerja (Prinsip P4)
Harus dipahami bahwa wartawan itu kadang berangkat subuh, baru pulang subuh besoknya lagi, atau P4 (Pergi Pagi Pulang Pagi). Tak ada batasan jam kerja seperti PNS atau pekerja swasta yang sesuai aturan bekerja 8 jam sehari. Dedikasi terhadap waktu adalah taruhannya.
4. Akal Sehat (at): Menjaga Moral dan Kode Etik
Tak semua informasi dapat langsung disajikan sebagai berita atau artikel. Wartawan harus berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik, di antaranya selain taat pada Undang-undang dan peraturan yang berlaku, juga pada norma serta menjunjung tinggi moral.
Dengan demikian, wartawan harus tahu tentang dampak tulisan atau berita, apakah layak atau tidak jika di beritakan. Artinya, tidak semua bahan berita atau fakta harus di beritakan. Ada nilai moral dan kaidah tentang kelayakan, serta harus paham tentang dampak berita bagi masyarakat jangan sampai meresahkan.
5. Sepasang Kaki yang Kuat (at): Memburu Eksklusivitas hingga ke Medan Laga
Kuat di sini adalah daya jelajah atau jangkauan yang luas. Mendapatkan suatu berita yang eksklusif bagi wartawan adalah suatu kebanggaan. Maka untuk mengejarnya, ke mana pun dan di mana pun ada sumber berita yang bagus dan eksklusif sekalipun ke medan perang atau ke pelosok desa yang jauh di sana harus di kejar. Oleh karena itu, syaratnya harus memiliki fisik yang sehat dan kaki yang kuat.
Kisah Nyata: Tragedi Jatuhnya Pesawat Merpati 1992
Ada cerita yang sedikit dramatis. Pada tanggal 18 Oktober 1992, Wartawan harian Mandala Bandung, Endang MS, pada jam 13.30 mendengar berita di televisi ada pesawat jatuh di Gunung Puntang, perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut. Insting wartawannya bekerja cepat.
Ia berangkat dengan menumpang angkot dari Baleendah ke Banjaran. Dari sana naik lagi angkot yang ke Ciwidey, lalu turun di Desa Cipaganti, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Dari sana, di bawah guyuran hujan dan kabut, ia merangsek berjalan kaki menuju puncak Gunung Puntang.
Sekitar jam 17.00, dengan napas tersengal-sengal dan basah kuyup, ia sampai di puncak. Ia mendapatkan bangkai pesawat yang sudah hancur berkeping-keping dan terbakar, serta korban yang bergelimpangan di duga sudah tewas terbakar.
Lalu sebuah benda kecil berwarna hitam hampir terinjak: sebuah kacamata hitam tergeletak dekat tubuh korban seorang wanita yang diduga pilot pesawat. Kacamata hitam itu di pungut dan langsung di pakainya. Belum ada orang di TKP waktu itu. Jangankan wartawan, penduduk pun belum ada. Jadi boleh di bilang, Endang lah wartawan pertama yang datang di TKP.
Di Balik Berita Headline Harian Mandala
Selesai mengambil foto sana-sini, dia pulang dan baru sampai di rumahnya komplek wartawan Baleendah hampir larut malam setelah menyewa ojek dari Banjaran. Besok pagi jam 07.00 dia sudah ada di kantor, kacamata pilot masih dipakai. Lalu ia kontak Polresta Bandung dan Polda Jabar sambil menunjukkan bukti salah satu kacamata pilot.
Di peroleh informasi bahwa pesawat yang jatuh itu jenis Cassa CN 235 yang akan di beli PT Merpati Nusantara Airlines dari IPTN. Pesawat itu masih dalam rangka uji coba penerbangan. Pagi itu jam 10.45 pesawat take off dari Bandara Juanda Surabaya menuju Halim Perdanakusuma Jakarta membawa 27 penumpang dan 4 orang kru.
Pilotnya adalah Kapten Penerbang Fierda Basaria Panggabean, seorang wanita yang baru berusia 29 tahun. Waktu transit di Cirebon jam 12.00, penerbang IPTN itu mendapat informasi dari pengawas penerbangan Bandara Husein Sastranegara bahwa Bandung Selatan di guyur hujan di sertai petir dan angin kencang. Namun, sebagai pilot yang sudah memiliki jam terbang tinggi, Fierda tetap menerbangkan pesawat produksi bangsa sendiri itu.
Di wilayah Bandung Selatan, ia minta izin kepada pengawas penerbangan untuk menurunkan pesawat dari 12.500 ke 6.500 kaki. Setelah itu, pesawat hilang kontak sampai akhirnya di temukan jatuh di Gunung Puntang akibat menabrak hutan pinus.
Pada tanggal 20 Oktober, Harian Mandala terbit dengan berita kecelakaan pesawat Merpati itu sebagai headline. Mereka menjadi koran pertama yang memberitakan tragedi maut itu. Itulah berita eksklusif yang membanggakan wartawan.
Epilog: Mengenang Legenda Wartawan Hebat
Saya harus mengakui bahwa Endang MS adalah seorang wartawan hebat. Pada zaman Petrus (Penembakan Misterius tahun 1982-1985), Endang aktif memberitakan kasus itu hampir setiap hari di Mandala. Hasilnya, oplah koran Mandala naik drastis, dan menjadi koran terbesar di Jawa Barat.
Endang kini telah tiada. Beliau telah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1996, mengembuskan napas terakhirnya waktu hendak pulang ke rumah setelah bekerja sehari semalam (P4).
Semoga almarhum bahagia di taman surga yang sejuk, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Kholidiina fiihaa abadaa… ***















