Oleh :DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Banyak hal dari kepulauan Nusantara ini yang membuat orang orang Eropa kepincut. Pertama letak yang strategis diantara dua samudra raya, Lautan Hindia dan samudera Pasifik.
Nusantara juga berada dalam jalur perdagangan antara Asia dan Eropa lewat selat Malaka.
Dan yang berikutnya, kepulauan ini, utamanya di Maluku, menjadi penghasil terbesar rempah rempah yang sangat dibutuhkan masyarakat Eropah.
Selain itu, pulau pulau seberang itu juga menarik untuk dikuasai dan rupanya adaptif bagi penyebaran agama Kristen.
Jadi tiga sasaran yang bisa diraih, ekonomi, koloni dan ekspansi agama
Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.
Paslah itu soal.
Tercatat ada lima negara Eropa dan satu dari Asia yang sempat menjajah Indonesia.
– Portugis ( 1509-1595),
– Spanyol (1521-1692),
– Belanda (1602-1942),
– Prancis (1806-1811),
– Inggris (1811-1816),
– Jepang (1942-1945)
Keuntungan para penjajah mulanya, ialah karena bangsa di Nusantara belum bersatu. Mereka masih terberai dan terpencar-pencar dalam kerajaan dan kesultanan yang bersifat lokal.
Perlawanan terhadap penjajah dilakukan oleh masing masing kerajaan dan kesultanan.
Misalnya perang Aceh, perang Padri di Sumatra Barat, Pemberontakan petani Banten. Atau yang lebih besar yang membuat tentara Belanda kewalahan adalah perang Diponegoro atau perang Jawa (1825-1830).
Awal abad ke 19 baru bangkit dalam format perjuangan nasional menuju kemerdekaan.
Tahun 1908 lahir Hari kebangkitan Nasional.
Tahun itu berdiri organisasi Budi Oetomo yang dimotori para mahasiswa Stovia yaitu Sekolah Dokter Boemi Poetra dengan tokohnya antara lain Dr. Soetomo.
Ada perjuangan lewat jalur politik dan diplomatik.
Muncul beberapa tokoh politik seperti Bung Karno, bung Hatta, Agus Salim atau dari angkatan muda seperti Sutan Syahrir Adam Malik, Wikana Sayuti Melik dll
Laskar tentara juga mulai bermunculan.
Berbagai motif perlawanan senjata dilakukan
Ada perang gerilya yaitu dengan cara menyerang tiba tiba, lalu mundur dan bersembunyi.
Ada taktik penyusupan dan sabotase.
Pada akhirnya semua kekuatan menyatu dan terbukti mampu mengusir penjajah lewat proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
Sejak itu secara fisik hapuslah penjajah itu dari bumi Pertiwi. Secara politik negara dan bangsa ini telah merdeka dan berdaulat.
Yang tersisa adalah kewajiban mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu. Mensejahterakan seluruh rakyat. Makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.
Tapi apa kabar dengan rempah rempah yang dicari orang Eropah. Kok kita malah membangun pabrik kapal terbang dan industri modern lainnya
Kita telah lupa jati diri sebagai negara agro maritim.***















