koransakti.co.id – Rabu, 31 Desember 2025. Puncak malam ini ada di detik-detik terakhir jam 23:59:50. Jutaan orang di seluruh dunia akan melakukan ritual yang sama: Menghitung Mundur Bersama.
Saat Anda berteriak bersama orang lain (entah di alun-alun kota atau di ruang tamu bersama keluarga), Anda merasakan sensasi “klik” atau perasaan menyatu yang kuat. Sains menyebut fenomena ini sebagai Social Synchrony (Sinkroni Sosial).
1. Menghapus Batas “Aku” dan “Kamu”
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa ketika manusia bergerak atau bersuara dalam ritme yang sama (seperti berjoget di konser, baris-berbaris, atau hitung mundur), batas kognitif antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur. Otak melepaskan hormon Oksitosin (hormon cinta/bonding) secara massal. Akibatnya? Anda merasa terhubung secara emosional dengan orang asing di sebelah Anda, seolah-olah kalian adalah satu organisme besar.
2. “Collective Effervescence” (Gelegak Kolektif)
Sosiolog Emile Durkheim punya istilah keren untuk momen malam tahun baru: Collective Effervescence. Ini adalah energi listrik tak kasat mata yang muncul saat sekelompok orang fokus pada satu hal yang sama di waktu yang sama. Momen ini membuat masalah pribadi Anda terasa kecil dan hilang sejenak, digantikan oleh perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar (Tahun Baru Global). Inilah yang membuat kita merasa “merinding” bahagia.
3. Dopamin dari “Antisipasi”
Kenapa harus hitung mundur? Kenapa tidak langsung saja? Otak manusia sangat mencintai antisipasi. Saat Anda mulai menghitung “10… 9…”, otak mulai memproduksi Dopamin (hormon kepuasan) secara bertahap. Puncaknya bukan di angka “1”, tapi di jeda hening sepersekian detik antara angka “1” dan teriakan “Happy New Year!”. Di jeda itulah ledakan dopamin terbesar terjadi.
Kesimpulan: Nanti malam, jangan hitung mundur dalam hati. Teriaklah yang kencang! Biarkan otak Anda menikmati cocktail hormon Oksitosin dan Dopamin sebagai hadiah penutup tahun yang manis.















