koransakti.co.id- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kupu-kupu malam atau ngengat seolah rela mempertaruhkan nyawa demi mendekati bohlam lampu yang panas? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Serangga cantik ini memiliki alasan biologis yang kuat mengapa cahaya buatan manusia tampak begitu menggoda di mata mereka.
Mekanisme Mata Majemuk yang Super Canggih
Kupu-kupu dewasa mengandalkan mata majemuk yang terdiri dari ribuan unit kecil bernama ommatidium. Setiap unit ini bekerja layaknya kamera mandiri yang menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal saraf ke otak.
Kehebatan sistem penglihatan ini memungkinkan kupu-kupu memantau segala arah—atas, bawah, hingga belakang—secara bersamaan.
Selain tajam dalam mendeteksi gerakan, mereka juga mampu menangkap cahaya terpolarisasi. Kemampuan unik inilah yang membantu mereka menentukan orientasi arah di alam liar.
Fototaksis Positif: Magnet Cahaya di Malam Hari
Dalam dunia biologi, perilaku kupu-kupu yang bergerak otomatis menuju sumber cahaya di sebut sebagai fototaksis positif. Cahaya putih yang terpancar dari lampu rumah atau kendaraan bertindak sebagai magnet bagi mereka.
Mengapa demikian? Secara evolusi, kupu-kupu malam menggunakan cahaya bulan yang stabil sebagai kompas alami. Ketika cahaya lampu yang jauh lebih terang muncul, sistem navigasi mereka menjadi kacau. Mereka mengira lampu tersebut adalah bulan dan terus berusaha menjaga posisi terbang agar tetap sejajar dengan sumber cahaya tersebut.
Mengira Lampu Adalah Sumber Makanan
Selain masalah navigasi, warna cahaya sangat menentukan reaksi kupu-kupu. Cahaya berwarna kebiruan sering kali memancarkan radiasi ultraviolet (UV).
Di mata kupu-kupu, spektrum UV ini identik dengan pantulan warna nektar pada bunga. Alhasil, kupu-kupu mendekati lampu biru bukan sekadar untuk terbang, melainkan karena mereka mengira telah menemukan “pesta” makanan yang melimpah.
Perlindungan Diri Melalui Manipulasi Visual
Menariknya, penglihatan bukan satu-satunya alat bertahan hidup. Banyak spesies kupu-kupu memiliki corak bintik hitam menyerupai mata besar di sayapnya. Pola ini berfungsi untuk mengintimidasi lawan. Dengan memamerkan bintik tersebut, mereka menipu predator agar mengira bahwa mereka adalah hewan besar yang berbahaya, bukan sekadar serangga kecil yang lemah. (gina)
Baca juga: Rahasia Di Balik Kilau Putih Salju: Mengapa Kristal Bening Bisa Menghasilkan Hamparan Putih?















