Home / Opini

Sabtu, 16 Mei 2026 - 05:53 WIB

Top 3 propinsi economic growth Tinggi Tapi Stunting Juga Tinggi

koransakti - Penulis

Top 3 propinsi economic growth Tinggi Tapi Stunting Juga Tinggi

Koransakti.co.id- Tiga propinsi di Indonesia meraih pertumbuhan ekonomi spektakuler pada kuartal I tahun 2026, jauh melampaui capaian nasional 5,61%. Propinsi tersebut yaitu Gorontalo 7,68%; Sulawesi Tengah 8,32%; dan Maluku Utara 19,64%.

Jika di telisik, sektor pertambangan memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi ketiga propinsi tersebut.

Pertambangan nikel menyumbang 75,3% di Maluku Utara dan 41,9% di Sulawesi Tengah. Sedangkan di Gorontalo, sektor pertambangan primer lebih dominan.

Siapa yang paling menikmati itu? Jawabannya investor asing yang menanam modal dan pihak dalam negeri yang berkolaborasi.

Pertanyaannya, rakyat di propinsi lokasi tambang mendapat apa?

Baca juga :   Kapal Tanker Negara Lain berhasil Lewat Selat Hormuz, Dua Tanker Kita Belum : Diplomasi Kemenlu Gagal?

Secara teoritik ada PBB, CSR, dan multiplier effect, itupun bila signifikan. Bagaimana dengan pajak lainnya dan royalti? Itu menjadi kewenangan pemerintah pusat yang terkesan maju mundur dalam memutuskan kebijakan royalti. Investor juga mendapat fasilitas pajak yang sangat friendly dengan alasan menarik investasi.

Mengapa di tengah “booming hasil tambang”, kasus stunting di ketiga propinsi tersebut masih tinggi?

Prevalensi stunting Sulawesi Tengah 26,1%; Maluku Utara 23,2%; dan Gorontalo 23,8%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Bali yang tidak memiliki eksplorasi tambang besar-besaran, namun prevalensi stuntingnya hanya 8,7%.

Secara akademik, stunting adalah gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi dan infeksi kronis. Bila dominan kekurangan protein disebut kwashiorkor, sedangkan dominan kekurangan kalori disebut marasmus.

Baca juga :   Wako Serahkan Penghargaan Orangtua Asuh Stunting Kepada RS Melati  

Pemerintah daerah dengan angka stunting tinggi perlu:

Pertama, mengintensifkan pemberian makanan tambahan padat kalori dan protein serta kegiatan bulan timbang berbasis masyarakat.

Kedua, melibatkan aktif ibu-ibu pedesaan melalui pembinaan PKK dan posyandu.

Ketiga, memperkuat kolaborasi Dinas Kesehatan dan Pendidikan di lapangan.

Keempat, meningkatkan akses pangan bergizi dan air minum.

Kelima, memberi reward kepada petugas posyandu dan PKK sebagai ujung tombak penanggulangan stunting.

Semoga penanggulangan stunting berhasil seiring pengentasan kemiskinan.

InsyaAllah.

Penulis:

Berita ini 9 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Waspada Kebakaran Hutan

Opini

Apakah sekitar Rp 1.600 triliun hasil ekspor sawit dan tambang kembali ke Indonesia?
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Tinggi : Tidak Berkorelasi dengan Indeks Pembangunan Manusia

Opini

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Tinggi : Tidak Berkorelasi dengan Indeks Pembangunan Manusia
Hari Perempuan Internasional 2026: Merayakan Resiliensi dan Kepemimpinan di Era Digital

Gaya Hidup

Hari Perempuan Internasional 2026: Merayakan Resiliensi dan Kepemimpinan di Era Digital

Opini

Bung Karno Nonblok, Prabowo Go To The Block

Opini

Rahasia Psikologi Hotel: Mengapa Kamar Penginapan Jarang Memasang Jam Dinding?

Opini

Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Jepang Rp 380 T termasuk EBT

Opini

Hampir 180.000 Jamaah Haji Indonesia Berisiko Tinggi: 4.000-an Petugas Akan Melayani?