Oleh: DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Secara kesejarahan, air zam-zam itu berkah.
Tiba-tiba saja muncrat dari kaki seorang anak kecil yang mewek kehausan. Sementara ibunya sedang mondar mandir antara dua bukit gundul dan gersang.
Belakangan diketahui kedua orang ibu dan anak itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah Siti Hajar dan bayinya bernama Ismail.
Suami dan ayah mereka juga seorang rosul terkasih Allah. Namanya Ibrahim dikenal sebagai embahnya para rasul.
Sejak muncrat dikaki Ismail, air itu tak berhenti mengalir. Jutaan ummat muslim yang tiap tahun melaksanakan ibadah haji dan umroh memanfaatkan air itu untuk minum selama berada disana dan membawa pulang barang 5 atau 10 liter sebagai oleh oleh untuk keluarga dan kerabat.
Pemerintah Arab Saudi tak hanya memandang air zam-zam itu sebagai berkah semata. Mereka bertanggung jawab atas keberadaan air itu terus mengalir dengan hygenis yang terjaga.
Pemerintah mengolah air itu secara teknologi.
Dari penelitian yang dilakukan air zam-zam mengandung kadar kalsium, garam magnesium, Fluorida ( senyawa yang dapat membunuh kuman). Itulah perbedaan zam-zam dengan air biasa. Dan kerena itu air zam-zam dapat menyegarkan tubuh orang yang meminumnya. Dan diketahui kandungan itu tak pernah berubah sejak diketemukan ribuan tahun dan telah dikonsumsi ratusan juta manusia. Memang secara teknologi zam-zam sudah disterilkan dengan menggunakan zat ultra violet.
Pemerintah Arab Saudi sudah melakukan upaya pengelolaan dan pengolahan secara teknologi modern.
Tahun 1971 dilakukan riset oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tharik Husain dan Moin Udin Ahmed.
Hal itu dilakukan setelah merebaknya isu yang disebar seorang doktor hidrologi dari Mesir yang menyebut air zam-zam itu tercemar oleh resapan air dari Laut Merah dan berbahaya jika dikonsumsi.
Tapi Tharik meragukan isu itu. Menurutnya jarak antara Ka’bah dengan Laut Merah yang 75 km terlalu jauh untuk sampainya resapan.
Meskipun Thariq meragukan ungkapan doktor dari Mesir itu, pemerintah Arab Saudi tetap melakukan upaya pengelolaan dan pengolahan air zam-zam itu dengan menggunakan teknologi modern. Pemerintah juga melakukan kontrol dan pengawasan terhadap maraknya pembangunan gedung gedung bertingkat di seputar Masjid Haram.
Dibentuk Badan Riset dan pengelola sumur zam-zam yang secara struktural berada di bawah Saudi Geological Survey (SGS) yang dibentuk tahun 1994.
Tugas tugas SGS antara lain :
– Memonitor dan memelihara agar sumur jangan sampai kering ,
– menjaga urban disekitar wadi Ibrahim kerena mempengaruhi pengisian air,
– mengatur aliran air dari daerah tangkapan (rechange area),
– menjaga pergerakan air tanah dan menjaga kualitas melalui bangunan kontrol,
– memperbaiki pompa dan tangki tangki penadah
-mengoptimalisasi suplai dan distribusi air zam-zam.
Dahulu kala pengambilan air dari dalam sumur dilakukan dengan cara ditimba.
Pompa air baru dibuat tahun 1953 (Masehi) atau 1937 Hijriah.
Dengan pompa, air disedot dari dalam sumur kemudian disalurkan ke dalam bak penampungan dan sebagian langsung ke kran kran yang ada di sana.
Sekarang telah dibangun saluran untuk menyalurkan air ke bak penampungan dengan kapasitas 15 ribu M3 yang bersambung dengan tangki yang ada di bagian atas Masjidil Haram. Sebagian air zam-zam juga dikirim melalui pipa ke tempat lain antara lain ke masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah yang berjarak lebih dari 400 km.
Belakangan ini muncul kekhawatiran air zam-zam itu akan mengering dan Berita itu sempat muncul di Detikcom dan Jawa Pos. Tentu saja berita itu mengagetkan pihak-pihak yang konsen pada pengolahan air zam-zam secara teknologi.
Juga sebagian yang percaya bahwa air zam-zam adalah berkah Allah yang akan terus mengalir sampai akhir zaman.
Menurut catatan sejarah sesungguhnya air zam-zam itu pernah berhenti mengalir. Baru mengalir kembali setelah ditemukan sumber sumbatan dan digali oleh Abdul Muthalib (kakek nabi Muhammad).
Diceritakan Abdul Muthalib bersimpuh didekat Ka’bah. Beliau menengadahkan tangan, memohon agar ditunjukkan letak sumbatan air zam-zam itu.
Suatu malam beliau bermimpi. Seseorang berjubah putih mendatanginya. Orang itu memberitahu bahwa air zam-zam berhenti mengalir karena tersumbat pasir, sekaligus memberi tahu letak tempat tersumbatnya.
Abdul Muthalib menggali sumbatan pasir itu dibantu al Haris salah seorang putranya.
Raja Fahd juga turun tangan. Beliau memerintahkan melakukan penelitian dengan melibatkan seorang ahli geologi bernama Dr.Adnan Niazi , profesor of geo psyics dari King Fahd University of Petroleum and mineral Daran Saudi Arabia.
Selain itu SGS juga melakukan studi khusus tentang sumur air zam-zam. Mereka melakukan survei pumping test akifer (uji volume permukaan air setelah disedot dan dihentikan penyedotan).
Pada kedalaman 17 meter dari kedalaman 30,5 meter tertembus bebatuan keras berupa batuan beku diorit dan lapisan avium wadi Ibrahim. Pada lapisan itu terdapat rekahan yang memiliki kandungan air. Ada dugaan rekahan itu tembus ke Laut Merah yang kemudian menyatu dengan air zam-zam yang ada di wadi Ibrahim
Lewat pemompaan dihasilkan air 11 hingga 18 leter perdetik.
Salah satu solusi dari penelitian SGS adalah dibuatkan sistim submersible pump secara modern.Jadi air zam-zam yang sekarang mengalir deras merupakan hasil sedotan hasil karya SGS.
Begitulah pemerintah Saudi Arabia tidak berhenti mengolah dan mengelola air zam-zam antara berkah dan teknologi yang super modern.
Tak lain dan tak bukan adalah untuk melayani keperluan jutaan Muslim dari seluruh jagat raya yang tiap setiap tahun datang memenuhi panggilan ilahi sambil menggemakan kalimah talbiah :
“Labaik Allahuma labaik, aku datang memenuhi panggilanmu, ya Allah.***















