koransakti.co.id – Pemerintah Denmark menyatakan bahwa serangkaian drone yang mengganggu beberapa bandara di negara itu pada Rabu malam adalah bagian dari “operasi sistematis” yang dilakukan oleh “aktor profesional”. Meskipun demikian, pihak berwenang menegaskan belum ada bukti yang mengarah pada keterlibatan Rusia dalam insiden tersebut.
Aktivitas drone ini memaksa Bandara Aalborg untuk ditutup selama beberapa jam, sementara Bandara Billund dan tiga bandara kecil lainnya juga melaporkan gangguan serupa. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Bandara Kopenhagen juga ditutup sementara karena alasan yang sama.
Serangan Hibrida yang Mengganggu Infrastruktur
Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, dalam konferensi persnya menyebut insiden ini sebagai “serangan hibrida”. Serangan hibrida sendiri merupakan taktik yang menggabungkan metode militer dan non-militer yang dirancang khusus untuk mengganggu atau merusak infrastruktur vital suatu negara.
“Ini adalah bagian dari operasi sistematis,” ujar Poulsen, seraya menambahkan bahwa perangkat drone tersebut tampaknya diluncurkan secara lokal.
Gangguan ini berdampak nyata pada lalu lintas udara, di mana setidaknya tiga penerbangan harus dialihkan dari Aalborg. Keberadaan drone di sekitar bandara menimbulkan risiko tabrakan yang serius dengan pesawat, terutama pada fase kritis lepas landas dan pendaratan.
Tidak Ada Bukti Keterlibatan Rusia
Meskipun Eropa saat ini sedang dalam kewaspadaan tinggi terhadap potensi agresi Rusia, Poulsen menekankan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan Moskow. Kedutaan Besar Rusia di Kopenhagen pun telah membantah “spekulasi absurd” tersebut dan menyebutnya sebagai “provokasi yang direkayasa” untuk meningkatkan ketegangan terkait perang di Ukraina.
Insiden ini menambah daftar panjang penampakan drone mencurigakan di beberapa negara anggota NATO, termasuk Jerman, Swedia, Polandia, dan Estonia. Meski belum terbukti, banyak pihak mencurigai ini adalah bagian dari agresi tidak langsung Rusia terhadap negara-negara yang mendukung Ukraina.
Tindakan Keamanan dan Respons NATO
Pihak berwenang Denmark memutuskan untuk tidak menembak jatuh drone tersebut karena alasan keamanan penduduk di sekitar area bandara. Namun, Kepala Inspektur Jesper Bøjgaard Madsen menegaskan, “Jika kami mendapat kesempatan, kami akan menjatuhkan drone-drone itu.”
Menanggapi meningkatnya ancaman ini, sebuah pertemuan Uni Eropa telah dijadwalkan untuk membahas peningkatan kesiapsiagaan terhadap drone di seluruh Eropa. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, bahkan telah menyerukan pembentukan “dinding drone” untuk menanggulangi serangan dari Rusia.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, juga menegaskan bahwa aliansi tersebut akan menggunakan “semua alat militer dan non-militer yang diperlukan” untuk mempertahankan diri. “Kami adalah aliansi pertahanan, ya, tapi kami tidak naif, jadi kami melihat apa yang sedang terjadi,” ujarnya.















