Koransakti.co.id- Kita patut memberi apresiasi kepada Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan di bawah pimpinan Menteri Purbaya Yudi Sadewa : Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61%.
Menurut BPS, konsumsi rumah tangga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan : 54,36%.
Kita mengucapkan selamat kepada jajaran “Lapangan Banteng” sebutan Kementerian Keuangan di kalangan keuangan. Kepada Menteri Keuangan, lanjutkan terus pembersihan bila ada pihak tertentu yang tidak sejalan dan indisipliner.
Berbeda jauh dengan sektor moneter : BI gagal total menjaga nilai tukar : padahal selalu di dengungkan fundamental ekonomi kuat, devisa aman dll. Tapi modal asing mengalir deras keluar. Asing ragu, bila tidak mau di sebut tidak percaya.
Akhirnya geopolitik global menjadi alasan. Di bawah pimpinan Perry Warjiyo, BI mencetak rekor nilai tukar terburuk sepanjang sejarah. Sempat menyentuh Rp 17.400.
Istana pun gusar. Presiden Prabowo Subianto memanggil Gubernur BI dan pejabat KSSK ke Istana tanggal 5 Mei 2026. Setelah pertemuan, baru Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan jurusnya.
Seharusnya 7 jurus yang di kemukakan sudah terimplementasi jauh-jauh hari, tidak perlu menunggu nilai tukar rupiah nyungsep. Krisis geopolitik dan energi akibat perang di Timur Tengah sudah berlangsung hampir tiga bulan.
Apa saja yang di kerjakan BI selama ini? Di lain pihak, rakyat Indonesia telah terkena dampak : kenaikan harga minyak, plastik, dan komoditi yang bahan bakunya berasal dari impor.
Semoga 7 jurus BI mustajab dan berhasil. Bila tidak, sebaiknya Gubernur BI secara gentle menyatakan berhenti karena gagal mengendalikan nilai tukar : tugas utamanya. Kalau ini terjadi, sejarah juga akan mencatat.
Semoga rupiah segera menguat. InsyaAllah.
Penulis:

Baca juga: Tes Darah Sederhana Bisa Deteksi Kanker Pankreas Lebih Awal















