Koransakti.co.id- Ketika di pikir pikir, setidaknya ada tiga philosofis terkemuka masa Yunani kuno. Mereka adalah Sokrates yang lahir tahun 371, Plato (329) dan Aristoteles (sekitar 449) Sebelum Masehi, Jadi ini cerita sekitar 23 abad lalu
Antara Sokrates yang lebih tua 42 tahun dan Plato, semacam ada pembagian tugas. Sokrates mengkhususkan pengkajian bidang kemanusiaan dan spiritual sedang Plato banyak melahirkan filosofi tentang politik dan kenegaraan.
Tapi yang pasti produk pikir mereka mampu menjadi acuan para cendekiawan Barat. Bahkan kemudian merambah pula kebelahan dunia bagian Timur termasuk, Indonesia.
Dalam buku Politea, Plato mengajarkan kita pengertian tentang Politik. Kata si dada lebar itu, politik adalah keinginan atau tujuan sekelompok orang yang ingin menjadi penguasa dalam sebuah negara.
Mereka mendapatkan kekuasaan itu lewat cara demokratis dengan mengikuti pemilu, atau bisa juga dengan cara dramatis lewat perebutan paksa.
Sekarang orang mengenal itu dengan sebutan, cup de’etat. Biasanya di lakukan sebuah junta militer yang berniat membangun pemerintahan otoriter.
Tapi Plato sendiri lebih merekomendasikan yang terbaik suksesi pemerintahan itu lewat demokrasi. Yang di bangun adalah pemerintahan republik hasil pemilu yang di ikuti oleh seluruh rakyat.
Soal ada sedikit kecurangan dalam pemilu itu, masih dapat di terima Artipikasi dari tujuan bersama di Indonesia mungkin identik dengan mukadimah atau pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tanah tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan bangsa dan Ikut menjaga dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial .
Tujuan itu dapat di capai melalui pembangunan secara bertahap terencana terarah dan terukur. Bahwa ketika hampir seratus tahun kita merdeka dan sudah tiga rezim ( Orla, Orba, Reformasi), kesejahteraan bersama itu belum juga terwujud, adalah sesuatu yang layak di simak dan di naungi kembali.
Ada yang salah dengan pemegang kekuasaan. Tak salah rupanya jika ada yang berpikir harus ada reformasi jilid ke dua.
Harus lahir pemimpin atau penguasa yang mampu menembus situasi dan karakteristik Indonesia. Membangun sesuai jatidiri Negeri. Agro maritim. Dari desa ke kota. Petani Mukti nelayan jaya di lautan ( jalesveva Jayamahe ) Jangan dulu membangun industri pesawat terbang apalagi afirmatif Intelegensi dengan membangun robot yang bisa mengalahkan intelektualitas manusia.
Sebuah pesan moral kepada para penguasa negara adalah bahwa rakyat telah penat dan lelah menanti makna dari mukadimah UUD 1945. Bangsa yang cerdas dan kesejahteraan umum yang berkeadilan sosial.
Saya tutup tulisan ini dengan sebuah cacandran Sunda
“Teundeun di handeuleum sieun, tunda di hanjuang siang, paranti nyokot ninggalkeun.
Setiap saat kita harus selalu introspeksi.. ***















