Koran Sakti.co.id, Jakarta, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menggelar acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama yang berlangsung di JCC Cendrawasih Ballroom, Senayan, Jakarta, Kamis, 14 Maret 2025. Dalam momentum ini, kepengurusan KADIN Indonesia periode 2024-2029 resmi dikukuhkan, termasuk Prof. Dr. Muhammad M Said yang dipercaya sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Perencanaan dan Pengembangan Ekonomi Mikro dan Makro Syariah.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh nasional, antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri P2MI Abdul Kadir Karding, Menkop UKM Budi Arie Setiadi, Menkes Budi Gunadi Sadikin, Menteri PKP Maruarar Sirait, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Kepala BGN Dadan Hindayana. Selain itu, turut hadir tokoh-tokoh senior KADIN seperti Rosan Roeslani, Aburizal Bakrie, Arsjad Rasjid, dan Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya N. Bakrie.
Dalam kesempatan ini, KADIN Indonesia bersama Kementerian Koperasi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan program Koperasi Desa Merah Putih. Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Bakrie, mengungkapkan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis inklusif.
Komitmen Prof. Muhammad M Said dalam Ekonomi Syariah
Sebagai akademisi dan praktisi ekonomi syariah, Prof. Dr. Muhammad M Said memiliki pengalaman luas di berbagai organisasi. Beliau adalah Ketua Dewan Pembina UMKM Naik Kelas DKI Jakarta, Anggota Penasehat UMKM Naik Kelas se-Indonesia, serta aktif dalam pengembangan ekonomi berbasis syariah. Saat ini, beliau juga menjabat sebagai Guru Besar Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sebagai Putra Bima, Nusa Tenggara Barat, Prof. Muhammad memiliki visi besar untuk meningkatkan peran ekonomi syariah dalam pembangunan nasional. Dalam wawancara setelah pengukuhannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh KADIN Indonesia.
“Bergabung dengan KADIN Indonesia merupakan peluang besar untuk mengembangkan konsep ekonomi syariah yang lebih inklusif dan berdaya saing. Saya berkomitmen untuk memperkuat peran ekonomi mikro dan makro syariah dalam berbagai sektor,” ujar Prof. Muhammad.
Peran Strategis di Wilayah Perbatasan dan Ancaman Radikalisme
Sebagai alumni Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) 23/2021 LEMHANNAS RI, Prof. Muhammad menekankan pentingnya pembangunan ekonomi di wilayah perbatasan. Ia menyebutkan bahwa daerah perbatasan Indonesia memiliki potensi ekonomi besar, tetapi masih menghadapi tantangan serius seperti penyelundupan, perdagangan manusia, dan ketimpangan pembangunan.
Selain tantangan ekonomi, wilayah perbatasan juga menjadi area rawan terhadap ekspansi ideologi radikalisme dan terorisme. Sebagai Anggota Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof. Muhammad menegaskan bahwa ketimpangan ekonomi dan kurangnya infrastruktur sosial di perbatasan dapat menjadi celah bagi kelompok ekstremis untuk menyebarkan pengaruh mereka.
“Radikalisasi di wilayah perbatasan sering terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi dan minimnya kehadiran negara dalam memberikan akses kesejahteraan. Oleh karena itu, ekonomi syariah dapat menjadi solusi dalam menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan di wilayah perbatasan. Sinergi antara koperasi, UMKM, dan infrastruktur ekonomi berbasis syariah harus diperkuat untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan serta menjaga stabilitas nasional,” jelasnya.
Langkah Strategis dalam Ekonomi Mikro dan Makro Syariah
Sebagai bagian dari KADIN Indonesia, Prof. Muhammad telah menginisiasi berbagai langkah strategis, termasuk:
Audiensi dengan Kementerian PUPR untuk membahas pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan.
Kerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM dalam memperkuat kebijakan pengembangan ekonomi mikro berbasis koperasi.
Mendorong pelaksanaan Training of Trainers (TOT) bagi delegasi dari setiap wilayah perbatasan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola lembaga keuangan mikro.
Studi teknologi agriyaponik di Ciracas, Jakarta Timur, untuk diterapkan sebagai solusi ketahanan pangan di daerah perbatasan.
Selain itu, Prof. Muhammad telah memimpin beberapa pertemuan bilateral penting, di antaranya:
Pertemuan dengan Dewan Perniagaan Usahawan Malaysia (DPUM) di Menara KADIN.
Penandatanganan MoU antara perusahaan Malaysia dan Indonesia di Westin Hotel, Jakarta.
Pertemuan dengan Ketua-Ketua Lembaga Amil Zakat di Swiss-Bel Residence.
Harapan dan Amanah untuk Masa Depan
Menanggapi pengukuhannya, Prof. Muhammad menegaskan bahwa amanah ini bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan tanggung jawab besar untuk mewujudkan program kerja KADIN Indonesia.
“Pengukuhan ini adalah titik awal bagi kita semua untuk bekerja lebih keras dalam membangun ekonomi syariah yang lebih inklusif dan berdaya saing. Saya berharap seluruh pengurus KADIN yang telah dikukuhkan dapat menjalankan tugas dengan penuh integritas dan dedikasi,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, Prof. Muhammad menyampaikan harapannya agar seluruh program yang telah dirancang dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa membimbing setiap langkah kita dalam membangun ekonomi Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (dher)















