Home / Internasional / Konflik / Peristiwa

Rabu, 8 Oktober 2025 - 17:30 WIB

Militer Myanmar Jatuhkan Bom dari Paraglider ke Festival, 24 Orang Tewas

koransakti - Penulis

Warga di Myanmar saat merayakan festival. Sebuah perayaan serupa di Sagaing menjadi target serangan bom dari paraglider oleh militer. (Sumber: Supplied/BBC)

Warga di Myanmar saat merayakan festival. Sebuah perayaan serupa di Sagaing menjadi target serangan bom dari paraglider oleh militer. (Sumber: Supplied/BBC)

koransakti.co.id – Militer Myanmar dilaporkan telah melancarkan serangan brutal terhadap sebuah kerumunan warga sipil yang sedang berkumpul untuk festival hari libur nasional. Juru bicara pemerintah persatuan nasional (NUG) mengatakan kepada BBC bahwa sedikitnya 24 orang tewas dan 47 lainnya terluka setelah sebuah paraglider bermotor milik tentara menjatuhkan dua bom ke arah massa.

Serangan mengerikan ini terjadi pada Senin (6/10/2025) malam di kota Chaung U, wilayah Sagaing, yang merupakan salah satu pusat perlawanan terhadap junta militer.

Menargetkan Protes Damai Warga Sipil

Saat serangan terjadi, sekitar 100 orang sedang berkumpul untuk mengadakan acara menyalakan lilin. Acara ini merupakan sebuah protes damai untuk menentang kebijakan wajib militer yang diterapkan junta dan menuntut pembebasan tahanan politik, termasuk pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi.

Baca juga :   Ditahan 8 Bulan, Pasangan Lansia Inggris Dibebaskan Taliban dan Bertemu Kembali dengan Keluarga

Seorang pejabat dari Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) setempat mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan adanya serangan udara. Mereka berusaha membubarkan acara lebih cepat, namun paraglider militer tiba lebih awal dari yang diperkirakan.

Kengerian di Lokasi Kejadian

Para saksi mata menggambarkan kengerian pasca-serangan. Mereka kesulitan mengidentifikasi jenazah karena kondisi korban yang hancur.

“Anak-anak benar-benar hancur berkeping-keping,” kata seorang perempuan penyelenggara acara kepada kantor berita AFP. Ia menambahkan bahwa hingga hari Selasa, mereka masih “mengumpulkan potongan-potongan tubuh”.

Baca juga :   Bangladesh Umumkan Rencana 7 Poin untuk Lindungi Pengungsi Rohingya di PBB

Tren Baru Taktik Brutal Junta

Amnesty International dalam pernyataannya pada hari Selasa menyebut penggunaan paraglider bermotor oleh junta untuk menyerang warga sebagai sebuah “tren yang mengganggu”.

Analis meyakini bahwa junta militer semakin sering menggunakan taktik ini karena sanksi internasional telah mempersulit mereka untuk mendapatkan pesawat tempur konvensional. Di sisi lain, mereka dilaporkan mendapatkan pasokan teknologi drone canggih dari China dan Rusia.

“Serangan ini harus menjadi peringatan mengerikan bahwa warga sipil di Myanmar membutuhkan perlindungan mendesak,” kata Joe Freeman, peneliti Myanmar dari Amnesty International. Ia juga mendesak ASEAN untuk meningkatkan tekanan terhadap junta militer Myanmar.

Berita ini 48 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

WHO dan India Akan Gelar KTT Global Kedua Pengobatan Tradisional di New Delhi

Inspiratif

Dua Saudara Berebut Merawat Ibu, Pengadilan Arab Saudi Menangis Haru

Daerah

Sayat Leher Mantan Istri, Pria di Subang Ditangkap Polisi Setelah Dua Hari Buron
Masalah Akses Situs Resmi Hambat Publikasi Jadwal Ski Alpen Olimpiade Musim Dingin 2026

Internasional

Masalah Akses Situs Resmi Hambat Publikasi Jadwal Ski Alpen Olimpiade Musim Dingin 2026

Internasional

Denmark Sebut ‘Aktor Profesional’ di Balik Serangan Drone yang Lumpuhkan Bandara

Daerah

Belasan Siswa SD di Palembang Diduga Keracunan Makanan Bergizi Gratis, Pemkot Jamin Penanganan Optimal

Peristiwa

Sembilan Orang Ditangkap Usai Perusakan Rumah Doa Kristen di Padang

Hukum

Kasus Charlie Kirk: Jaksa Ungkap Tersangka Tinggalkan Surat Pengakuan