koransakti.co.id- Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta resmi menahan tiga mantan pejabat Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada Kamis (21/5). Langkah tegas ini di ambil setelah pihak kejaksaan menetapkan mereka sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang mencakup pemerasan, gratifikasi, serta penyalahgunaan wewenang.
Ke tiga tersangka tersebut masing-masing berinisial DP (mantan Dirjen Sumber Daya Air), RS (mantan Sekretaris Ditjen Cipta Karya), dan AS (Pejabat Pembuat Komitmen di Sekretariat Ditjen Cipta Karya).
Modus Operandi: Proyek Fiktif dan Pemerasan BUMN
Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati DKI Jakarta, Dapot Dariarma, mengungkapkan bahwa DP di duga kuat memeras dan menerima suap dari sejumlah BUMN Karya serta pihak swasta.
Tindakan culas ini berkaitan erat dengan pelaksanaan beberapa proyek di lingkungan Ditjen SDA. Dari hasil kejahatan tersebut, DP mengantongi uang tunai sebesar Rp2 miliar serta dua unit mobil mewah, yakni Honda CR-V dan Toyota Innova Zenix.
Sementara itu, tersangka RS dan AS memainkan peran yang berbeda. Ke duanya bekerja sama merekayasa proyek fiktif di Sekretariat Ditjen Cipta Karya sepanjang periode 2023 hingga 2024.
Akibat manipulasi proyek tersebut, negara harus menanggung kerugian fantastis yang di perkirakan mencapai lebih dari Rp16 miliar.
Jeratan Pasal dan Penyitaan Aset
Oleh karena tindakan tersebut, penyidik menjerat DP dengan pasal berlapis, termasuk Pasal 12 huruf e atau Pasal 12 huruf a subsidair Pasal 12 huruf b atau Pasal 12B ayat (1) dan (2) UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, serta pasal terkait dalam UU Nomor 1/2023 tentang KUHP.
Di sisi lain, jaksa membidik RS dan AS dengan Pasal 603 atau Pasal 604 jo. Pasal 20 UU Nomor 1/2023 tentang KUHP jo. Pasal 18 Ayat (1) UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dalam proses penyidikan, tim Kejati DKI Jakarta bergerak cepat menyita dua unit mobil mewah milik tersangka beserta sejumlah uang tunai dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD). Saat ini, jaksa penuntut umum menahan ketiga tersangka selama 20 hari ke depan.
Petugas menempatkan DP di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, sedangkan RS dan AS mendekam di Rutan Cipinang, Jakarta Timur.
“Saat ini penyidik terus melaksanakan pengembangan penyidikan dengan memeriksa saksi, ahli keuangan negara, dan tersangka. Kami juga melakukan pelacakan serta penyitaan aset guna memulihkan kerugian keuangan negara,” tegas Dapot. (red)
Rp 45 Miliar Di duga Di korupsi, Mantan Bupati dan Camat di Tahan Kejaksaan














