TORONTO, KANADA – Aksi mogok kerja massal yang dilakukan oleh pramugari maskapai Air Canada dan Air Canada Rouge kini memasuki hari keempat, Selasa (19/8/2025). Aksi ini telah menyebabkan kelumpuhan total pada operasional maskapai nasional Kanada tersebut dan membuat ribuan penumpang terlantar di Bandara Internasional Toronto Pearson.
Aksi industrial yang dimulai sejak Sabtu lalu ini terus berlanjut meskipun pemerintah telah mengeluarkan perintah untuk kembali bekerja (back-to-work order). Serikat pekerja yang menaungi para pramugari dengan tegas menolak perintah tersebut dan melanjutkan aksi mogok, menuntut kesepakatan yang lebih baik.
Lumpuhnya Bandara Tersibuk di Kanada
Situasi di Bandara Toronto Pearson, bandara tersibuk di Kanada, digambarkan sangat kontras. Area keberangkatan Air Canada terlihat “sangat sepi”, namun di sudut-sudut terminal dipenuhi oleh para penumpang yang kebingungan dan frustrasi. Ratusan penerbangan telah dibatalkan sejak aksi dimulai.
Pihak otoritas bandara telah mengeluarkan peringatan dan meminta calon penumpang untuk memeriksa status penerbangan mereka sebelum berangkat ke bandara. “Mungkin dibutuhkan beberapa hari agar jadwal maskapai dapat kembali normal sepenuhnya,” tulis pihak Bandara Toronto Pearson dalam sebuah pernyataan di media sosial.
Meski pihak maskapai sempat berharap dapat memulai kembali beberapa penerbangan pada Senin malam, harapan itu pupus setelah serikat pekerja menegaskan posisi mereka.
“Jika Air Canada berpikir bahwa pesawat akan terbang sore ini, mereka salah besar,” tegas Presiden Nasional CUPE (serikat pekerja), Mark Hancock, pada Senin (18/8).
Kisah Pilu Penumpang yang Terlantar
Dampak dari aksi mogok ini paling dirasakan oleh para penumpang. Sistem layanan pelanggan maskapai dilaporkan berada di ambang kehancuran, dengan banyak penumpang tidak dapat menghubungi agen untuk melakukan penjadwalan ulang.
Marcello Arenas, seorang penumpang yang seharusnya terbang ke Wina, Austria, pada hari Minggu, terpaksa bermalam di lantai bandara. “Mereka menyuruh saya menelepon sebuah nomor, tetapi tidak ada agen yang bisa saya ajak bicara untuk memesan ulang penerbangan,” keluhnya.
Nasib serupa dialami Stephanie Brown, yang penerbangannya ke Prince Edward Island dibatalkan. Ia mengaku cemas karena harus mengeluarkan biaya ribuan dolar dari kantong sendiri untuk mencari alternatif.
“Saya mencoba menelepon layanan pelanggan, tetapi panggilan saya ditolak karena terlalu banyak orang yang menelepon,” ujarnya sambil duduk di bawah papan informasi keberangkatan yang didominasi oleh tulisan “DIBATALKAN”.
Peringatan Bagi Penumpang Maskapai Lain
Pihak bandara juga memperingatkan bahwa aksi mogok ini dapat berdampak pada penumpang maskapai lain. Para pramugari yang melakukan aksi mendirikan barisan piket di luar area keberangkatan Terminal 1. Hal ini berpotensi menyebabkan keterlambatan bagi siapa pun yang menuju bandara.
Meskipun penerbangan maskapai lain diperkirakan tidak akan mengalami gangguan operasional, para pelancong tetap diimbau untuk menyediakan waktu ekstra untuk perjalanan mereka menuju bandara. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda kesepakatan antara pihak serikat pekerja dan Air Canada.















