Oleh : PUTRA ASIKIN
Koran Sakti.co.id, Bandung- Shohib saya al ustadz KH Engkos Kosasih, sedikit meradang.
Mantan Kepala SD favorit di kota Tasikmalaya itu mengeluh soal Perda Pendidikan (No 4 tahun 2007).
Al mukarrom bilang itu Perda yang dibuat era walikota Bubun Bunyamin itu sudah out of date. Sudah jadul dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
Alih alih dia tidak memberikan data secara detail dan saya juga tidak menemukan literasi tentang Perda itu.
Saya mencoba mengobrak abrik koleksi buku saya di rumah dan memutar mutar situs telusur di google tak juga menemukan, saya pikir kita lebih baik membicarakan kualitas pendidikan secara nasional.
Hampir semua orang, mulai pengamat, akademisi, sampai politisi nyaris sepakat bahwa kualitas membuat masyarakat penghuni republik ini menjadi pintar (alias pendidikan) , belum berhasil.
Ada yang bilang stagnan, ada yang omon terpuruk dls.
Tapi kalau mau obyektif ya tidak zero zero amatlah.
Paling tidak dilihat dari jumlah orang buta huruf, harus diakui sudah berkurang.
Ada ukuran yang paling keren dalam menilai kepintaran orang perorangan atau kelompok dalam negara, yaitu hadiah Nobel atau Nobel award.
Sejak hadiah itu diluncurkan (thn 1901) belum pernah ada orang Indonesia yang memperolehnya.
Cuma sekadar nominasi ada , tapi baru 2 biji yang disebut sebut. Pertama sastrawan Pramudya Ananta Tur dalam isu Petralogi Buru dan Yusuf Kalla dalam upayanya mendorong perdamaian Aceh.
Tapi keduanya gugur kandung, layu sebelum berkembang.
Coba bandingkan dengan orang Yahudi.
Menurut literasi yang saya temui, sejak adanya nobel award 1901 sampai 2022 sudah ada 194 individu faksi Israil itu yang mendapatkan hampir semua bidang ( fisika, kimia , kesehatan, perdamaian, sastra dan ekonomi).
Jumlah itu setara 23% dari seluruh hadiah ( sekitar 959) yang sudah diberikan.
Padahal sangat tojaiyah ( berlawanan) bila dilihat dari kuantitas penduduk.
Indonesia ini negara besar ke 4 dalam hal jumlah penduduk di dunia (katanya 280 juta) sementara Yahudi/Israil seluruhnya hanya sekitar 15,7 juta.
Pertanyaan yang sangat sulit dijawab, kenapa so difficult amat sih memajukan pendidikan dibumi pertiwi ini.
Kata beberapa pengamat :
– Ada hubungannya dengan kondisi geografi. Kita ini negara kepulauan terbanyak (lebih dari 17.000 pulau)
– Akses ke sekolah terutama di pedalaman dan daerah terluar sangat terbatas,
– jumlah bangunan sekolah masih kurang dan banyak yang rusak,
– jumlah guru masih kurang. Katanya tahun 2024 masih kurang guru 1,3 juta,
– Penyebaran guru juga tidak merata. Ada daerah lebih ada daerah kurang. Sistim otonomi daerah menjadi hambatan mutasi guru antar daerah,
– Kualitas guru masih rendah,
– Kesejahteraan guru turut menjadi penyebab rendahnya kualitas. Bagimana bisa diharapkan kualitas dari seorang guru, jika pendapatnya hanya Rp.300 – Rp.500 sebulan ?
– Kurikulum yang berubah rubah. Ganti menteri pasti ganti kurikulum. Nadiem Makarim menghapus UN dan memulai pendidikan dengan istilah merdeka belajar. Eh Abdul Mu’tie yang baru cle, sudah mikir mikir kembalikan UN.
Ujung ujungnya semua orang pusing jadinya. Orang tua pusing, guru pening, murid rieut sirah, pemerintah juga ikut linglung.
Semua bingung.
Qouvadis, kemana engkau pergi pendidikan ?***















