Home / Sains

Minggu, 2 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Rahasia Kimia di Balik Pisang Matang: Mengapa Rasanya Makin Manis dan Lezat?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Pisang muda yang berwarna hijau identik dengan rasa sepat dan tekstur yang keras. Namun, hanya dalam beberapa hari, kulitnya berubah kuning cerah, memunculkan bercak cokelat, dan teksturnya menjadi sangat lembut. Bersamaan dengan perubahan visual tersebut, rasa buah berubah menjadi jauh lebih manis dan lezat. Perubahan luar biasa ini sebenarnya merupakan rangkaian proses biologis aktif yang digerakkan oleh sistem metabolik buah itu sendiri.

Keajaiban Perubahan Pati Menjadi Gula

Saat masih mengkal, pisang menyimpan sebagian besar karbohidratnya dalam bentuk pati kompleks. Begitu memasuki fase pematangan, pelbagai enzim langsung bekerja aktif memecah rantai pati tersebut menjadi molekul gula yang jauh lebih sederhana, seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Oleh karena itu, rasa manis pada pisang yang matang muncul akibat lonjakan kadar gula larut di dalam daging buahnya.

Perubahan komposisi ini terbukti secara ilmiah melalui riset pada pisang Cavendish. Pada tahap paling hijau, kandungan pati total mencapai sekitar 22,76 persen. Namun, angka tersebut merosot tajam hingga tersisa 4,28 persen saja ketika pisang sudah sangat matang. Sebaliknya, kadar gula bebas justru melonjak drastis dari 2,05 gram menjadi 20,38 gram per 100 gram bahan. Selain mengubah rasa, proses perombakan pati dan struktur dinding sel ini sekaligus membuat tekstur pisang terasa kian lembut saat digigit.

Baca juga :   Kenapa Kue Bisa Mengembang & Martabak Jadi Bersarang? Kenalan dengan Soda Kue (NaHCO3), Si Peniup Adonan!

Sinergi Aroma, Keasaman, dan Persepsi Lidah

Menariknya, rasa manis yang makin kuat tidak melulu disebabkan oleh lonjakan jumlah gula semata. Sensasi manis di lidah merupakan hasil kombinasi yang seimbang antara kadar gula, tingkat keasaman, aroma, dan tekstur. Seiring matangnya buah, senyawa asam organik serta zat pembentuk rasa sepat merosot tajam. Pada saat yang sama, buah melepaskan aroma khas yang semakin semerbak. Kombinasi inilah yang memicu persepsi lidah sehingga menangkap rasa manis secara lebih dominan.

Pola Pematangan: Buah Klimakterik vs Non-Klimakterik

Meski demikian, tidak semua jenis buah memiliki kemampuan untuk menambah kadar gulanya setelah dipetik dari pohon. Para ahli mengelompokkan buah ke dalam dua kategori utama berdasarkan pola respirasinya:

  • Buah Klimakterik (seperti Pisang, Apel, dan Mangga): Jenis buah ini terus memproduksi hormon etilen bahkan setelah panen. Hormon tersebut aktif memicu perombakan sisa cadangan pati menjadi gula, sehingga buah akan terus melunak dan bertambah manis di tempat penyimpanan.

  • Buah Non-Klimakterik (seperti Nanas, Anggur, dan Jeruk): Kelompok buah ini tidak memiliki cadangan pati yang signifikan. Oleh sebab itu, mereka menghentikan proses pembentukan gula begitu terlepas dari tangkainya. Menyimpan nanas mentah di samping pisang matang mungkin bisa mengubah warna kulitnya, tetapi tidak akan membuat daging buahnya bertambah manis.

Baca juga :   Pojok Sains: Fenomena Hypnic Jerk, Kenapa Tubuh Sering 'Kaget' & Merasa Jatuh Saat Baru Terlelap?

Apakah Harus Menjauhi Buah yang Sangat Matang?

Bagi Anda yang perlu membatasi asupan gula, memakan buah yang sedikit lebih mengkal memang bisa menjadi pilihan cerdas karena kandungan patinya dicerna lebih lambat oleh tubuh. Namun, Anda sebenarnya tidak perlu menjauhi buah matang secara berlebihan.

Kunci utamanya terletak pada kontrol porsi dan cara mengonsumsinya. Mengonsumsi buah matang secara utuh jauh lebih baik daripada mengolahnya menjadi jus. Serat alami pada buah utuh berfungsi memperlambat penyerapan gula di dalam saluran pencernaan, sehingga tubuh tetap mendapatkan nutrisi maksimal tanpa memicu lonjakan gula darah yang drastis. (Gina)

Berita ini 25 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Pojok Sains: Membedah "Pembangkit Listrik" di Kepala Kita, Bagaimana Otak Menghasilkan Energi Setara Lampu LED?

Artikel

Pojok Sains: Membedah “Pembangkit Listrik” di Kepala Kita, Bagaimana Otak Menghasilkan Energi Setara Lampu LED?

Internasional

WHO Peringatkan Krisis: Riset Antibiotik Baru Melambat, Bakteri Kebal Obat Makin Mengancam
Pojok Sains: Fenomena Pareidolia, Kenapa Kita Sering Melihat 'Wajah' di Benda Mati?

Fakta Unik

Pojok Sains: Fenomena Pareidolia, Kenapa Kita Sering Melihat ‘Wajah’ di Benda Mati?
Pojok Sains: Kenapa Mengiris Bawang Bikin Mata Perih & Menangis? (Ada Senjata Kimianya!)

Artikel

Kenapa Potong Bawang Bikin Nangis? Ternyata Ada “Serangan” Asam Sulfat ke Mata Kita!

Bilogi

Mengenal Ikan Dori: 5 Fakta Unik Si Tang Biru yang Ternyata Beracun!

Bilogi

Rahasia Ikan Antartika: Mengapa Mereka Tidak Membeku di Air Dingin Eksrem?
Sang Raja Lautan yang "Terkutuk": Kenapa Hiu Akan Mati Lemas Jika Berhenti Berenang Sedetik Saja? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Artikel

Sang Raja Lautan yang “Terkutuk”: Kenapa Hiu Akan Mati Lemas Jika Berhenti Berenang Sedetik Saja? Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Kenapa Digigit Semut Rasanya Panas & Gatal? Kenalan dengan Asam Formiat (CH2O2), Senjata Kimia si Kecil!

Artikel

Bukan Cuma Sopan Santun! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Semut Selalu “Salaman” Saat Berpapasan & Rahasia Senjata Kimia Asam Format (HCOOH)