Home / Opini

Selasa, 17 Juni 2025 - 15:33 WIB

Efek Domino Geopolitik Regional Iran–Israel Bagi Indonesia Menurut Opini Prof Muhammad M Said

koransakti - Penulis

Guru Besar Ekonomi Islam dan Anggota IKA LEMHANNAS Strategic Centre

Koran Sakti.co.id, Jakarta – Konflik bersenjata antara Iran dan Israel bukan sekadar konfrontasi dua negara di Timur Tengah.

Dunia global yang saling terhubung membuat setiap gejolak geopolitik memiliki potensi menyebar cepat, memengaruhi stabilitas ekonomi, energi, dan sosial negara-negara lain termasuk Indonesia.

Ketegangan yang awalnya bersifat regional kini bertransformasi menjadi ancaman global.

Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia mulai menunjukkan manuver keras.

Pengerahan kapal induk USS Nimitz oleh AS, disertai peringatan dari Rusia yang mendukung Iran, menandai bahwa konflik ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa dunia tengah berada dalam “masa yang sangat berbahaya.” Serangan terhadap Iran bisa memicu konflik terbuka antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia Amerika Serikat dan Rusia.

Dalam skenario terburuk, bukan tidak mungkin konflik ini menjadi pemicu Perang Dunia III.

Indonesia, meskipun berstatus nonblok, tetap memiliki posisi strategis dan tidak akan kebal dari dampak efek domino global yang ditimbulkan.

Konflik Iran–Israel setidaknya menimbulkan tiga dampak besar bagi Indonesia: ketidakstabilan harga energi, volatilitas pasar keuangan, dan potensi polarisasi sosial dalam negeri. Ketiganya saling berkaitan dan berpotensi menimbulkan tekanan berlapis terhadap ketahanan nasional.

Perubahan Harga Energi
Iran merupakan salah satu negara produsen minyak utama dunia.

Jika perang terus bereskalasi dan mengganggu jalur distribusi energi terutama di Selat Hormuz maka harga minyak dunia berpeluang melonjak tajam.

Baca juga :   ORANG INDONESIA YANG PERTAMA NAIK HAJI SIAPA ?

Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan langsung terdampak, mulai dari tekanan terhadap neraca perdagangan, meningkatnya beban subsidi energi, hingga potensi lonjakan inflasi.

Masyarakat kelas menengah bawah akan merasakan efeknya paling berat: daya beli menurun, biaya hidup naik.
Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya struktur energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor energi fosil.

Di tengah krisis seperti ini, justru menjadi momentum untuk mempercepat transisi ke energi baru terbarukan. Indonesia memiliki potensi besar dalam energi surya, air, dan bioenergi. Jika dikelola serius, transisi energi bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga strategi geopolitik untuk memperkuat ketahanan nasional.

Volatilitas Pasar dan Arus Modal Keluar Perang global juga berdampak pada pasar keuangan. Ketika investor asing melihat ketidakpastian, mereka cenderung menarik dananya dari negara berkembang untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS atau emas sehingga memicu arus modal keluar (capital outflow), yang berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah, menekan cadangan devisa, dan meningkatkan beban utang luar negeri.

Pasar saham menjadi tidak stabil, dan investasi sektor riil bisa melemah.
Kondisi ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi melalui diversifikasi investasi, penguatan cadangan devisa, dan pengendalian utang.

Kita percaya Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terus berbenah diri memperkuat sinergi menghadapi gejolak global, baik melalui kebijakan moneter maupun fiskal yang adaptif.

Baca juga :   Ahmad Heryawan dan Gaya Kepemimpinan Hemat yang Masih Dikenang di Jawa Barat

Polarisasi Sosial dan Ketahanan Nasional
Dampak lain yang tak kalah serius adalah potensi masuknya narasi sektarian atau politik identitas ke dalam dinamika sosial domestik. Konflik Iran–Israel bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga sering dibalut dengan sentimen keagamaan, khususnya isu Sunni–Syiah.

Narasi seperti ini rentan dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem untuk memecah belah masyarakat dan mengganggu harmoni sosial.
Dalam konteks ini, peran ulama, tokoh agama, dan ormas Islam sangat penting untuk meredam potensi konflik horizontal. Moderasi beragama dan penguatan nilai-nilai kebangsaan harus menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI di tengah badai geopolitik global.
Epilog: Diplomasi Damai dan Ketahanan dalam Tindakan
Konflik Iran–Israel bukan sekadar konflik dua negara, tetapi peringatan bagi kita semua tentang rapuhnya tatanan global saat ini.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bersiap menghadapi efek domino yang bisa datang dalam bentuk apa saja seperrti krisis energi, keuangan, atau sosial. Indonesia perlu memperkuat diplomasi damai, mempercepat transisi energi berkelanjutan, dan menjaga ketahanan sosial melalui pendekatan yang inklusif dan preventif.

Sebagai bangsa nonblok dengan prinsip bebas aktif, Indonesia harus tetap memainkan peran sebagai penjaga perdamaian dunia, sekaligus memproteksi kepentingan nasional di tengah badai global.

Ketika dunia bergetar oleh dentuman konflik, Indonesia harus berdiri tegak bukan hanya bertahan, tetapi memimpin dengan nurani.

Berita ini 80 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Heboh virus hanta di kapal pesiar: Kebersihan Lingkungan dan Deteksi Dini Menjadi Penting

Opini

Heboh virus hanta di kapal pesiar: Kebersihan Lingkungan dan Deteksi Dini Menjadi Penting

Opini

Sekitar 175 juta Rakyat Indonesia mengonsumsi Tempe Terdampak : Melemahnya Rupiah terhadap dolar

Ekonomi

Pemangkasan Anggaran MBG akan Hemat Rp235 Triliun

Keuangan

Balada Bank Jambi : Bank “Tidak Baik-Baik Saja”

Opini

*Pemred “Bau Kencur”, Ancaman terhadap Kredibilitas Media*

Opini

Telkom di Investigasi Badan Federal Amerika Serikat: Hadapi Saja

Jakarta

Sebuah Opini ‘The Art of Dreaming’

Jakarta

Sengketa Tanah Desa Wadas dan Negara (Pemerintah) Dari Sudut Pandang Demokrasi Ekonomi Implementasi Demokrasi Pancasila