Home / Opini

Senin, 10 November 2025 - 19:04 WIB

Mahasiswa di Sponsori atau Nalar yang Terbakar?

koransakti - Penulis

Oleh: Sandi Batman (Mahasiswa Universitas Gunung Maras, Fakultas Teknik Perkeliruan)

koransakti.co.id, Bangka Belitung – Belakangan ini, suasana debat publik di negeri ini terasa makin panas. Bukan karena musim kemarau, tapi karena ada yang nalar dan egonya mulai terbakar.

Penyebabnya sederhana: beberapa mahasiswa menulis opini tentang energi nuklir lalu langsung di tuduh sebagai penulis bayaran.

Lucu juga, ya?

Di negara yang katanya menjunjung kebebasan berpikir, kok berpikir malah di anggap proyek?

Saya, Sandi Batman, mahasiswa Universitas Gunung Maras jurusan Teknik Perkeliruan, jadi ikut heran. Seolah kalau mahasiswa menulis dengan argumen ilmiah, otomatis ada “sponsor misterius” di belakangnya.

Padahal, bukankah kampus justru tempat menguji nalar, bukan menuduh tanpa dasar?

Coba kita lihat logika yang beredar:

Kalau mahasiswa menolak PLTN → di sebut pahlawan rakyat, mendukung PLTN → di tuding antek proyek, sedangkan diam → di anggap apatis. Akhirnya, mau berpihak atau tidak, semuanya salah.

Baca juga :   Mahasiswa se- Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh Gelar Aksi Damai, Suarakan Tiga Tuntutan

Sungguh nasib tragis bagi kaum intelektual muda: salah bicara salah, diam pun salah.

Saya tidak sedang membela PLTN. Saya cuma membela hak setiap orang termasuk mahasiswa untuk berpikir dan menulis tanpa dicap sebagai “alat kepentingan”.

Sebab kalau semua opini yang tidak sejalan langsung di anggap pesanan, maka ruang publik kita akan penuh paranoia, bukan diskusi.

Apalagi tuduhan “framing berbayar” itu kini seperti jurus andalan baru: di gunakan setiap kali kehabisan argumen.

Ironisnya, yang paling keras menuduh framing justru kerap membingkai opininya sendiri dengan narasi “atas nama rakyat”.

Sungguh teknik framing tingkat dewa  menuduh orang lain pakai bingkai, padahal dirinya sedang memoles bingkai versi pribadi.

Baca juga :   Antara MASDUKI dan DUMISAKE

Dosen saya di Fakultas Teknik Perkeliruan pernah berkata:

“Kalau belum punya data, jangan keburu menuduh. Karena menuduh tanpa bukti itu seperti membangun reaktor tanpa uranium, bising di awal, meledak di tengah.”

Jadi, kalau memang tidak sepakat dengan pandangan mahasiswa soal PLTN, lawanlah dengan data dan logika, bukan dengan tuduhan dan imajinasi.

Diskusi keilmuan itu arena adu argumen, bukan lomba mencari kambing hitam.

Sebab yang kita butuhkan saat ini bukan generasi yang pandai curiga, tapi generasi yang berani berpikir.

Dan kalau memang tulisan mahasiswa bisa membuat pihak tertentu kepanasan, mungkin masalahnya bukan pada mahasiswa, tapi pada nalar mereka yang terlalu mudah terbakar. (Red)

Berita ini 20 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

*Pemred “Bau Kencur”, Ancaman terhadap Kredibilitas Media*

Jambi

Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

Jakarta

Sebuah Opini ‘The Art of Dreaming’
Upaya Mengatasi Mahalnya Plastik

Opini

Upaya Mengatasi Mahalnya Plastik

Opini

Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Jepang Rp 380 T termasuk EBT

Daerah

Renungan di Awal tahun 2022

Opini

*Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik*

Nasional

Pemuda Panca Marga sebagai Garda Bangsa