koransakti.co.id- Dalam era globalisasi sekarang sangat lazim ekspatriat menjabat sebagai CEO perusahaan di suatu negara, termasuk di “State-Owned Enterprise” (SOE).
Danantara sendiri sudah menggunakan dua tenaga asing di PT Garuda Indonesia sejak Oktober 2025 sebagai direksi.
Satu sebagai direktur keuangan yang punya pengalaman 25 tahun di Singapore Airlines dan satu lagi sebagai direktur transformasi. Namun Garuda masih tetap rugi. Kalau kerugian Rp5,4 triliun pada tahun 2025 dapat di pahami karena kedua ekspatriat tersebut baru masuk bulan Oktober 2025.
Namun kerugian Rp728 miliar pada kuartal I tahun 2026 yang di alami Garuda patut kita pertanyakan. output kedua tenaga asing yang di bayar tinggi tersebut? Bisa juga karena masalah di Garuda sangat besar dan sangat komplikatif.
Terkait penunjukan warga Australia sebagai CEO PT Danantara Sumberdaya Indonesia, kita “welcome” saja, apalagi yang bersangkutan sudah malang melintang di industri pertambangan dengan pengetahuan teknis dan finance yang mumpuni. Namun waktu juga yang akan membuktikan “success story” atau sebaliknya bagi yang bersangkutan.
Ada tiga hal yang perlu di pertimbangkan supaya tenaga asing yang di tempatkan di Danantara dapat memberi hasil yang optimal:
Pertama, jangan berikan cek kosong. Berikan target dengan rentang waktu yang jelas dan terukur.
Kedua, yang bersangkutan harus memahami “kultur bisnis” di Indonesia dengan segala aspeknya.
Ketiga, menempatkan warga domestik sebagai deputy untuk membantu yang bersangkutan, terutama terkait dengan target yang diinginkan pemerintah dengan segala tantangannya.
Penulis:














