Home / Opini

Jumat, 15 Mei 2026 - 20:48 WIB

Rupiah Melemah, Harga Komoditas Strategis Makin Tinggi: Derita Rakyat Makin Parah

koransakti - Penulis

Rupiah Melemah, Harga Komoditas Strategis Makin Tinggi: Derita Rakyat Makin Parah

Penulis:

Prof. Dr. RIZAL DJALIL MAKMUR (Prof RDM)

Politisi Senior, Eks Ketua BPK RI & Analis Politik Anggaran, Pangan dan Health Economic

Koransakti.co.id- Kalau melemahnya rupiah berdampak pada kenaikan BBM dan segala efek dominonya, semua orang sudah tahu dan merasakannya.

Bagaimana dengan komoditas strategis lainnya? Kita sebut strategis karena sangat di butuhkan dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar rakyat Indonesia: tahu, tempe, mi instan, dan obat-obatan.

Kedelai impor:
Tahu dan tempe terbuat dari kedelai yang di impor dari luar negeri. Pada tahun 2025, Indonesia mengimpor sekitar 2,5 juta ton. Saat ini harga per karung (50 kg) telah mencapai Rp620.000, dulu hanya Rp300.000.

Baca juga :   Partai UKM Indonesia, Rumah Kaum Nasionalis Inklusif

Gandum impor:
Mi instan terbuat dari gandum. Impor gandum kita sekitar 10 juta ton. Sebagai negara pengonsumsi mi terbesar nomor dua di dunia, kita sangat tergantung pada gandum impor. Mi instan sudah menjadi makanan favorit karena kepraktisannya. Naiknya harga mi instan tak terelakkan.

Obat-obatan:
Kita sangat tergantung pada bahan baku obat dari luar negeri (95%). Nilai impor bahan baku obat Indonesia mencapai US$2,64 miliar. Harga obat tak terhindarkan naik.

Baca juga :   Purbaya Pergi: Suahasil Nazara sebagai Pengganti

Plastik:
Plastik sebagai barang ikutan untuk kemasan sudah naik hampir 100 persen.

Tiga komoditas: kedelai, gandum, dan bahan baku obat memang harus di impor karena kita tidak bisa dan belum mampu memproduksi sendiri.

Hanya saja, dengan ambruknya nilai tukar rupiah, harga yang harus di bayar semakin mahal. Tekanan dan derita yang di alami sebagian besar rakyat Indonesia semakin berat.

Semoga tujuh jurus BI mengendalikan rupiah bisa mustajab supaya azab tidak semakin berat.

Baca juga: Mata Uang Rupiah Sakit: Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

 

Berita ini 22 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Lagi Dana Pensiun Jadi Korban Penggelapan Rp 850 Miliar: PM Anwar Ibrahim Perintahkan Investigasi.

Opini

Pasien BPJS Bukan Gratisan : Setiap Bulan Klaim yang dibayar ke RS Rp 16,5 Triliun

Opini

11 Tahun KerinciTime Berita Tak Akan Berakhir

Opini

Sejak Reformasi: Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang Berani “Merombak dan Menata Ulang” BUMN

Opini

Top 3 propinsi economic growth Tinggi Tapi Stunting Juga Tinggi

Daerah

Pernahkah Anda Bayangkan Apa Yang Terjadi Jika Isis & Anteknya Berkuasa Di Indonesia

Opini

*Pemred “Bau Kencur”, Ancaman terhadap Kredibilitas Media*

Opini

Mata Uang Rupiah Sakit: Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?