Keracunan MBG Terjadi Lagi: Hadapi dengan Rasional dan Solusi
Koransakti.co.id- Pada minggu lalu awal September terjadi keracunan MBG di berbagai daerah: Bener Meriah, Aceh; Agam, Sumatera Barat; Rembang, Jawa Tengah; dan Sidoarjo, Jawa Timur. Sekitar 1.961 siswa dan guru terdampak.
Banyak orang bertanya mengapa keracunan MBG terjadi lagi? Bukankah tata kelola sudah di perbaiki dan nakhoda sudah berganti?
Di situlah analisis bisa mulai di lakukan. Penggantian nakhoda dan perbaikan tata kelola yang di konkretkan dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang baru: tidak serta-merta membuat semua potensi risiko bisa di kendalikan, termasuk keracunan.
Mengapa?
Pertama, Program MBG sangat masif menjangkau daerah operasional yang sangat luas. Kondisi SDM, infrastruktur dan kultur antar daerah sangat beragam dan variatif.
Kedua, SOP yang di buat mungkin sudah di ujicoba, tapi skalanya terbatas karena keterbatasan waktu: tidak menjangkau representasi wilayah secara luas yang dapat di jadikan patokan secara nasional.
Ketiga, prasarana SPPG yang sangat variatif dalam menampung semua proses penyiapan MBG sampai saat distribusi ke sekolah. Ada SPPG yang harus menyiapkan volume MBG cukup besar: honorarium sama dengan petugas SPPG yang harus menyiapkan MBG dalam volume relatif lebih kecil.
Keempat, besar kemungkinan batas ambang aman konsumsi (4-6) jam terlewati karena: proses masak terlalu pagi, jarak tempuh yang jauh atau kemacetan menuju lokasi sekolah, pergeseran waktu makan. Dan kebiasaan siswa membawa pulang MBG.
Kelima, sebagus apa pun SOP yang di buat tetap di perlukan pengawasan secara internal sehingga SOP benar-benar terimplementasi dengan baik.
Mekanisme pengawasan inilah yang harus di atur oleh BGN ke depan supaya dapat mencegah kasus keracunan MBG. InsyaAllah.
Penulis: 















